Budaya Lokal Warisan Leluhur, Siapa Mau Mewarisi?

Oleh : Slamet Haryono dan Kartika Dewi

Tidak mudah menjaga kelangsungan suatu jenis usaha berbasis budaya tradisional. Seperti halnya yang terjadi pada industri batik Lasem, berbagai usaha tradisional lain di Kabupaten Rembang pun mengalami berbagai ancaman kelangsungan regenerasi bagi para pengusaha dan pekerjanya. Sebagai upaya menemukan perbandingannya, IPI melakukan  wawancara dengan Ibu Slamet, 57 tahun, seorang penjual nasi tahu (sego tahu) dan sate ayam srepreh khas Rembang di Jalan Dr. Wahidin No. 9, Rembang. Tim IPI juga mengunjungi Ibu Karsiyatun, 42 tahun, salah seorang perajin gerabah di desa Kabongan Kidul, Kabupaten Rembang.

Ramai Pelanggan, TanpaPenerus

Usai berjualan, sekitar jam 09.00 bu Slamet dengan senyum bangga menceritakan awal mula berjualan yang tadinya cuma di emperan pinggir jalan sekarang sudah berani sewa kios seharga 15 juta rupiah untuk tempat usaha selama 10 tahun ke depan. Bu Slamet sangat menjaga kualitas rasa nasi tahu dan sate ayam srepeh buatannya, sehingga dia membatasi pembuatan nasi tahu hanya sekitar 100 porsi dengan sate ayam srepeh 500 tusuk dalam sekali jualan. Tak heran jika banyak pembeli yang kecewa karena tidak kebagian. Agar dapat menikmati nasi tahu dan sate ayam srepeh Bu Slamet, pelanggan harus terima menunggu giliran dari sejak dibuka jam 07.00.  “Kalau pas rame tidak sampai jam 09.00, tapi kalau agak sepi ya baru habis jam 10.00­an,” tutur Bu Slamet. Untuk dapat menikmati satu porsi nasi tahu dan 10 tusuk sate ayam srepeh beserta satu gelas teh manis, kita cukup membayar Rp 12.500,­ Kalau dihitung­hitung dalam sehari Bu Slamet mendapatkan laba bersih tak kurang dari Rp 200.000,­

Selain dengan membatasi jumlah porsi dalam setiap penjualan dia juga meyakinkan bahwa semuanya dia kerjakan sendiri, membeli bahan baku sendiri kemudian diramu dengan resep andalan, warisan dari almarhum ibu mertuanya. Suaminya juga dengan setia telah membantu dan mendampingi Bu Slamet berjualan selama 17 tahun. Karena umurnya yang sudah mulai menua, mereka berdua terkadang dibantu Mas Abadi, 30 tahun, anaknya yang keempat beserta menantunya. Namun yang disayangkan ketika anaknya ditanya mengenai kelangsungan usahanya kelak, dia menjawab hanya sekedar membantu dan tidak bermaksud untuk meneruskannya. “Usaha jualan ini hanya sampai saya,” Bu Slamet menambahkan sambil berekspresi sedih. Mas Abadi masih belum yakin untuk bisa melanjutkan usaha tersebut, karena selama ini semua urusan dagangan ditangani Bu Slamet. Nampaknya Mas Abadi perlu mendapatkan dukungan mental agar mau melanjutkan usahanya tersebut. Apalagi istrinya justru sudah mempunyai pekerjaan tetap, sementara dia hanya membantu di tempat ibunya.

Keempat anak Bu Slamet yang lain sudah bekerja di luar kota dan tidak satupun yang mau meneruskan usaha jualan nasi tahu dan sate ayam srepeh. Ketika ditanya apakah Bu Slamet mau mewariskan ilmunya tersebut kepada orang lain yang mau melestarikan resep masakannya, dia merasa keberatan. Tetapi dari raut wajahnya dia juga menyayangkan usaha yang sudah dirintisnya tidak ada yang meneruskan, padahal sudah punya banyak penggemar berat dari kota­kota sekitarnya se­ perti Juwana, Surabaya, Semarang bahkan juga ada yang dari Jakarta. “Kalau sudah tidak mampu berjualan saya masih bisa menikmati hari tua dari uang tabungan sendiri, ikut sama anak­anak” ujar Bu Slamet dengan yakin. Me­ ngenai kelangsungan usaha nasi tahu dan sate ayam srepeh, dia menuturkan masih ada penjual lainnya meski tidak seramai usaha jualannya.

Sepi Permintaan, Ilmu Tidak Diwariskan

Di tempat lain, Ibu Karsiyatun, 42 tahun, seorang perajin gerabah asal desa Kabongan Kidul, mengeluh hidupnya hanya begini­begini saja, apalagi setelah ditinggal mati suaminya dua tahun yang lalu.  Sepeninggal suaminya, dia hanya membuat gerabah mentah untuk kemudian dijual kepada Natono, adik laki­lakinya dengan harga Rp 3.500,­ untuk setiap gerabah buatan­ nya yang seukuran gentong air besar (isi sekitar 25 liter). Sampai di tangan Natono, gerabah tersebut baru dibakar bersama­sama dengan gerabah dari perajin yang lain. Setelah melalui pembakaran, oleh Natono gentong tersebut dapat dijual seharga Rp 20.000,­.  Jika cuaca mendukung (tidak banyak hujan turun), Bu Karsiyatun dapat memperoleh penghasilan bersih sekitar Rp.90.000,­ dalam sebulan. Uang itu dipakai untuk kebutuhan sehari­hari, sedangkan untuk membiayai sekolah kedua anaknya, Bu Karsiyatun mendapatkan kiriman uang dari anak sulungnya yang merantau berdagang di Palopo, Sulawesi Selatan.

Karsiyatun, Natono dan Karsiti adalah 3 dari enam barsaudara yang masih hidup. Ketiganya mendapatkan bekal keterampilan membuat gerabah dari orang tuanya. Meskipun mereka masih “dapat” menyambung hidup dari membuat gerabah, tetapi mereka justru tidak berharap anak­anaknya mewarisi keterampilan mereka. “Jangan sampai mereka seperti orang tuanya, menderita. Biar kerja sebagai buruh di pabrik atau apa aja, asal jangan seperti saya yang membuat gerabah,” ujar Bu Karsiyatun. Apalagi anak­anak Bu Karsiyatun semua laki­laki, karena pada umumnya keterampilan untuk membuat gerabah diwariskan pada kaum perempuan. Meskipun yang laki­laki juga bisa saja membuat gerabah tetapi mereka lebih fokus pada proses pembakaran/ finishing dan penjualan.

Gerabah buatan mereka cenderung berukuran besar, setidaknya berkapasitas 25 liter air, dengan tekstur agak kasar. Saat ini kebutuhan masyarakat akan gerabah buatan mereka tidaklah seramai jaman dulu karena kalah bersa­ ing dengan perkakas sejenis yang terbuat dari bahan baku lain, seperti plastik dan alumunium.  Dari sejak awal membuat gerabah sampai saat ini, mereka hampir tidak pernah  melakukan inovasi pada model gerabah. Sebenarnya mereka membuka diri untuk membuat gerabah dengan model lain, namun hanya sebatas kalau ada pesanan.

Miris memang melihat perjuangan perajin gerabah dalam menyambung hidupnya. Pendampingan berbagai pihak peduli untuk perbaikan teknologi produksi, inovasi desain, bantuan modal maupun akses pemasaran perlu dilakukan agar kelangsungan produk gerabah warisan leluhur mereka tetap terjaga sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.

***

Majalah Kanuri Edisi IV, Januari 2009

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on January 15, 2009, in Kanuri and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: