Demokrasi Sudah Usang

Seiring dengan masuknya imperialisme barat ikut terbawa juga paham-paham mengenai hubungan warga negara dengan pemerintah. Sejak saat itu demokrasi dianggap sebagai salah satu cara yang paling beradab dalam rangka menentukan masa depan suatu negara atau wilayah kekuasaan tertentu.

Tidak disadari sepenuhnya, dengan masuknya paham demokrasi juga membawa konsekuensi yang sebenarnya tidak diharapkan. Apa mau dikata, kita yang sudah terlanjur mengkultuskan demokrasi merasa paling berhak untuk menentukan masa depan masyarakat kita. Untuk itu tak jarang dikeluarkan isu-isu yang bersifat sektarian, kedaerahan, kesukuan dan kelompok masyarakat tertentu. Hal ini tidak dapat dipungkiri lagi mengingat konsep dasar dari demokrasi adalah keterwakilan komponen-komponen masyarakat. Konsekuensinya adalah munculnya partai-partai yang berusaha untuk mengakomodir sebanyak mungkin kepentingan masyarakat. Isu-isu sektarian tersebut bisa sangat ampuh untuk memikat hati masyarakat untuk memberikan dukungan suaranya dalam pemilihan jika isu tersebut terkait dengan dominasi masyarakat setempat, baik itu suku, agama, atau latar belakang profesi. Masing-masing berlomba-lomba menegakkan demokrasi dan menunjukan diri sebagai yang paling berhak untuk memimpin. Berikut beberapa konsekuensi yang dapat timbul dari praktek demokrasi:

Konflik horisontal dan kerusakan fasilitas publik
Hal yang tidak pernah terpikirkan oleh pegiat demokrasi bahwa dengan membawa kepentingan-kepentingan kelompok dalam bungkus isu sektarian dapat memunculkan konflik horisontal antar komponen masyarakat. Sudah terlalu banyak contoh konflik ini, terlalu panjang untuk disebutkan satu-persatu. Barangkali ada yang mengelak bahwa perebutan pengaruh melalui kampanye ataupun aksi unjuk rasa yang berbuntut perseteruan tidak dikategorikan sebagai konflik, karena tidak sampai terjadi kontak fisik. Tapi ingat justru melalui mekanisme yang semacam itulah konflik horisontal mendapatkan energi dengan semakin tinggi intensitas perseteruan yang akhirnya terakumulasi dan pecahlah konflik, meski event pemilihan telah berlalu.
Jikalau konflik sudah terjadi, maka yang sudah pasti menjadi resiko adalah kerusakan fasilitas publik ataupun pribadi. Itu belum termasuk kerugian tidak langsung akibat terhambatnya aktifitas perekonomian masyarakat. Efek perseteruan yang berbuntut konflik tersebut tidak selalu terjadi pada kedua kubu yang berseteru, tapi juga dapat melibatkan komponen ketiga seperti KPU, Kepolisian atau warga masyarakat sekitar yang tidak ikut langsung dalam konflik. Sudah cukup banyak kantor Pemerintah, KPU, Kantor Polisi ataupun rumah pribadi yang menjadi korban.


Biaya yang terlalu mahal untuk persalinan demokrasi

Untuk menyelenggarakan pemilihan suara dalam melahirkan demokrasi dibutuhkan biaya yang cukup menguras APBN atau APBD, mulai dari pengadaan kertas suara sampai kepada hornor bagi para pengawas proses pemilihan tersebut. Itu belum termasuk uang yang dikeluarkan dari para kandidat sebagai umpan untuk membeli suara masyarakat yang bisa sangat besar sekali. Tak jarang juga ditemui kasus penyalahgunaan dana non-budgeter dari departemen atau kantor tertentu untuk menyulang kebutuhan dana dalam kampanye.

Maraknya politik uang tersebut mendapatkan respon positif dari sebagaian masyarakat yang notabene sudah terjebak dalam paradigma pragmatis dan materialis oleh karena krisis multi dimensi yang berkepanjangan. Sama-sama mencoblos tidak salah juga kalau mereka mendapatkan reward secara langsung berupa uang atau barang. Namun, hal ini tidak disadari oleh masyarakat secara langsung bahwa para kandidat yang melakukan politik uang tersebut pada kemudian hari jika terpilih akan melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan modal termasuk mendapatkan keutungan secara materi tentunya. Jikalau seorang pemimpin memang dengan baik hati dan dermawan hendak memberikan sumbangan ke warga, mengapa tidak langsung saja memberikan sumbangan ke warga masyarakat tanpa harus menjadi kandidat ?

Upaya untuk mengembalikan modal tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, sebagian besar adalah melalui praktek yang mempunyai nama generik sebagai korupsi baik melalui penyalahgunaan APBN/APBD, dana siluman dalam proyek-proyek pembangunan, maupun upeti dari kantor ataupun dinas-dinas yang ada di bawahnya. Bukan rahasia umum lagi, jika untuk mendapatkan tender dalam proyek-proyek pembangunan seorang kontraktor harus memberikan uang pelicin yang cukup besar, bergantung nilai proyeknya. Namun demikian sang kontaktorpun juga tidak mau dirugikan, akhirnya mau tidak mau baik melalui kesepakatan di bawah tangan ataupun secara diam-diam proyek pembangunan tetap dilaksanakan tapi dengan kualitas yang jauh di bawah strandar yang seharusnya. Makanya jangan heran kalau mendapati fasilitas publik yang cepat rusak meskipun baru saja dibangun. Bahkan ada juga yang sudah rusak ketika sedang dibangun. Akhirnya, rakyat juga yang menderita.

Pemimpin yang populis

Lazimnya setelah pemungutan suara maka dapat diketahui siapa yang hendak menjadi pejabat baik eksekutif ataupun legislatif. Karena demokrasi tidak punya mata, hati dan pikiran, maka satu-satunya yang dipahami demokrasi adalah yang mendapat suara terbanyak yang menang. Oleh karena itu, jangan heran kalau misalnya dijumpai pemimpin yang lebih capable tidak terpilih tapi justru yang terpilih adalah yang lebih populer meski capable atau tidak. Hanya saja terkadang orang-orang terlanjur menggunakan parameter kapabilitas itu menyangkut pengalaman menangani hal yang sama, dengan kata lain isu kapabilitas banyak dibawa oleh tim sukses dari pihak incumbent. Tidak ada salahnya juga incumbent juga terlibat lagi dalam pemilihan berikutnya, yang saya garis bawahi adalah jangan hanya menggunakan parameter yang lebih berpengalaman yang lebih capable.

Isu mengenai kapabilitas juga terkadang dipelintir menjadi isu tingkat pendidikan yang telah diperoleh oleh sang kandidat. Sebagai catatan tidak semua orang pintar bisa memimpin, apalagi yang kepintarannya diperoleh hanya dengan menambahkan gelar akademis secara instan.

Sikap apolitis
Residu dari proses demokrasi yang tidak kunjung memberikan perubahan nasib bagi warga masyarakat dapat menimbulkan sikap apolitis. Berkembangnya pengetahuan dan kesadaran manyarakat akan proses demokratisasi semakin membukakan mata masyarakat terhadap usangnya demokrasi. Jargon yang telah didengungkan beratus-ratus tahun ini tetap juga menyisakan luka di hati masyarakat kecil yang tidak pernah ikut merasakan nikmatnya demokrasi. Di Amerika yang begitu menunjung tinggi demokrasi ternyata partisipasi warga dalam pemilihan dari tahun ke tahun cenderung mengalami penurunan, bahkan pernah dikabarkan jumlah pemilih yang tidak menggunakan suaranya lebih dari 15%.

Waspada isu pembangunan
Sebagai penutup yang perlu mendapatkan perhatian bersama adalah mengenai isu pembangunan yang dikeluarkan oleh para kandidat. Pembangunan sudah sepantasnya dilakukan sebagai implementasi visi dan misi ketika berkampanye dan hal ini juga menjadi harapan warga masyarakat juga, dengan asumsi melalui pembangunan maka akan dapat meningkatkan pemerataan kesejahteraan. Sisi yang harus diwaspadai adalah, bahwa melalui proyek-proyek pembangunan tersebut sangat potensial untuk dapat memenuhi pundi-pundi keuangan pribadi ataupun partai. Konsekuensinya seperti telah saya singgung di atas, yaitu menurunnya kualitas banggunan dari yang seharusnya jika dibandingkan dengan besarnya niai proyek tersebut.

Mengapakah begitu mahal melahirkan demokrasi? Ataukah karena demokrasi memang sudah usang? Apakah kita generasi muda punya tanggungjawab untuk memberikan kontribusi terhadap negeri ini dalam rangka mewujudkan pemerataan kesejahteraan dengan cara-cara yang lebih kontekstual dan tentunya tidak mahal.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on July 22, 2008, in Artikel and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: