Skenario Pola Pengembangan Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana

Pengembangaan mahasiswa adalah bagian dari proses pendidikan yang dilakukan secara sadar untuk mempersiapkan mahasiswa terjun ke masyarakat setelah menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi. Di UKSW, upaya ke arah itu diletakkan dalam suatu kerangka acuan yang bersumber pada ideal UKSW yang dirumuskan sebagai profil lulusan. Profil lulusan adalah sesuatu yang sangat mendasar karena profil itu sendiri adalah gambaran khas (ciri) lulusan yang hendak dicapai. Perumusan itu secara kongkrit dituangkan dalam suatu skenario pola pembinaan mahasiswa.

Berdasarkan pemahaman tentang ideal UKSW, dasar dan tujuannya, maka didasari bahwa mahasiswa sebagai salah satu komponen dalam pendidikan tinggi yang akan merupakan keluaran dari pendidikan tinggi paling tidak harus mempunyai di dalam dirinya dua kompetensi dasar, yaitu humanistik dan profesional skills.

Humanistik Skills dimaksudkan sebagai kemampuan menghadirkan diri secara manusiawi dalam kehidupan bermasyarakat yang turut bertanggungjawab bagi kelangsungan nilai – nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan. Sedangkan Profesional Skills dimaksudkan sebagai kemampuan melakukan profesinya dengan berbekal pengetahuan akademik yang memadai dalam rangka mengaktualisasikan dirinya di masyarakat.

Aspek humanistik skills ini hendaknya dicapai dalam suatu perguruan tinggi Kristen seperti UKSW ini dengan memperkembangkan kepribadian Kristiani sebagai intisarinya. Ini berarti bahwa pendidikan dan pengajaran pada bagian ini akan berkisar pada pendidikan nilai – nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan yang diterangi oleh nilai-nilai kekristenan. Untuk itulah indikasi – indikasi dari terpenuhinya kemampuan ini dijabarkan ke dalam 5 kadar yaitu kadar keagamaan, kadar kewarganegaraan, kadar lingkungan, kadar sosial budaya dan kadar kepemimpinan.

Sedangkan aspek profesional skills dicapai dengan cara memperkembangkan secara sungguh – sungguh ilmu pengetahuan dan teknologi dalam diri mahasiswa sendiri yang pemanfaatannya benar – benar dapat diarahkan kepada kepentingan kesejahteraan manusia. Untuk itu tiga kadar dirumuskan sebagai indikator dari terpenuhinnya profesional skills ini, yaitu kadar manejerial, kadar keilmuan dan kadar solidaritas sosial.

Kadar keagamaan dimaksudkan sebagai suatu pemahaman yang tepat tentang pengertian beragama dan maknanya bagi kehidupan kemanusiaan dan kemasyarakatan. Untuk itu suatu pemahaman tentang agama, inti ajaran agama tersebut sangat perlu dipahami agar terbentuk sifat etis yang bertanggungjawabkan kepada keyakinan keagamaannya dalam setiap tindakan dan perbuatan. Sebagai suatu perguruan tinggi Kristen, sudah barang tentu aspek ini dikerjakan dalam perspektif iman kristen yang menjadi falsafah dasarnya.

Kadar Kewarganegaraan dimaksudkan sebagai suatu sikap menjunjung keberadaan bangsa dan negara Indonesia yang merdeka, berdaulat dan bersatu dalam mencapai cita – cita kemerdekaan . Untuk itu suatu pemahaman tentang dasar – dasar berbangsa dan bernegara perlu dipahami secara tepat supaya dapat dihindari pengaruh-pengaruh yang dapat menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Kadar Lingkungan dimaksudkan sebagai kesadaran tentang pentingnya pemeliharan lingkungan hidup dan pemahaman tentang upaya pengembangan potensi lingkungan hidup bagi kepentingan kehidupan manusia. Untuk itu pemahaman tentang sumber daya alam dan keterbatasan sumber daya alam tersebut diketahui, dan bagaimana manusia berupaya supaya hidupnya langgeng dalam batas – batas tersedianya sumber daya alam itu.

Kadar Sosial Budaya dimaksudkan sebagai pemahaman tentang nilai – nilai sosial budaya yang hidup  dan berkembang dalam masyarakatnya. Untuk itu konteks masyarakat didalam mana mahasiswa itu akan ditempatkan amatlah perlu diketahui seluk beluknya. Sebagaimana diketahui bahwa pendidikan yang bermakna adalah pendidikan dalam konteks sesuatu masyarakat dengan nilai – nilainya. Oleh karena itu suatu pemahaman yang tepat mengenai nilai – nilai itu sangat perlu diketahui oleh mahasiswa.

Kadar Manejerial dimaksudkan dalam kerangka Humanistik skills adalah kemampuan pengembangan diri sebagai sebagai seorang calon pemimpin dalan masyarakatnya. Untuk itu pemahaman tentang nilai – nilai kepemimpinan yang hidup yang berkembang dalam masyarakat yang perlu diketahui. Sedangkan pengertian kadar menejerial dalm kerangka profesional skills adalah kemampuan pengembangan diri dalam pengembangan pengetahuan ilmu dan profesinya sehingga ia benar – benar harus menjadi pelopor – polopor pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kadar keilmuan dimaksudkan sebagai kemampuan yang bertanggungjawab tentang penguasaan ilmu pengetahuan yang dituntut menurut stratum pendidikannya dan kemampuan pelaksanaan profesinya. Itu berarti bahwa seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan pada suatu stratum pendidikan tertentu, haruslah dapat diperlakukan sebagai seorang yang sarjana menurut tuntutan – tuntutan yang ditetapkan untuk stratum tersebut. Dari dirinya dapat diandalkan atau dituntut kemampuan keilmuan dan profesinya berdasarkan kriteria tertentu.

Kadar Solidaritas Sosial dimasuksudkan sebagai kemampuan penerapan ilmu pengetahuan dan profesinya sebagai kepentingan kemanusiaan dan kemasyarakatan sehingga kesejahteraan masyarakat selalu menjadi ukuran dari pelaksanaan dan pengembangan ilmu pengtahuan dan profesinya.

Apabila kadar – kadar tersebut di atas dijumpai dalam diri seseorang lulusan UKSW, maka dengan ini dapat dikatakan UKSW telah mempersembahkan kepada Gereja, Masyarakat dan Bangsanya sarjana – sarjana yang kreatif sesuai dengan gagasan – gagasan UKSW tentang creative minority.

Sudah barang tentu seperti disadari dalam pemahaman tugas bahwa kualifikasi-kualifikasi ini hanya akan dapat terpenuhi apabila dipenuhinya persyaratan sarana dan prasarana yang memadai termasuk motivasi dan komponen peranan mahasiswa.

Apabila semua ini tidak terpenuhi secara baik, maka amat sulitlah ideal – ideal UKSW itu tercapai. Kualifikasi – kualifikasi ini ditetapkan dengan sengaja agar usaha – usaha pendidikan dan pengajaran memang diarahkan kepada pemenuhan kualifikasi – kualifikasi ini menjadi kerangka acuan pelaksanaan proses pendidikan dan pengajaran. Derajat terpenuhinya tergantung kepada faktor – faktor yang sudah disebutkan di atas, yang dengan sendirinya menjadi tanggungan penyelenggara pendidikan itu.


[1] Disampaikan dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa SEMA FSM UKSW, Kampus UKSW Salatiga, 26 Januari 2008. Keseluruhan bahan ini diambil dari tulisan PRUMA UKSW dalam Buku Dies UKSW Tahun 1984, yang ditulis ulang oleh Umbu Rauta.

 

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on January 26, 2008, in Materi Pelatihan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: