Kristen Sungguhan Takut akan Tuhan atau Takut Feng Shui?

Hadirnya pancuran batu hitam tepat di depan pintu masuk GAP (Gedung Admisitrasi Pusat),  disinyalir sebagai icon pengakuan terhadap praktek feng shui di UKSW. Belakangan ini pembicaraan mengenai feng shui menjadi begitu hangat setelah adanya aksi pengunduran diri dari beberapa staf pengajar di Fakultas Teologi untuk tidak lagi membantu  melayani di campus ministry karena UKSW dianggap tidak hanya mendasarkan diri pada nilai-nilai kristiani tapi juga feng shui. Berikut hasil penelusuran SA.


(SA- Kamis, 15 Maret)- Mengawali investigasi, SA bergegas menemui Pdt. I Wayan Damayana, STh., M.Si sebagai ketua campus ministry. Di sela-sela kesibukannya Pak Wayan -sebutan akrab beliau- dengan ramah menyambut dengan hangat kehadiran tim SA di ruang kerjanya, meskipun mendadak dan tidak ada janji ketemu sebelumnya. Mengenai feng shui sendiri, beliau sendiri mengaku tidak tahu persis apa sebenarnya feng shui sehingga ketika ada isu mengenai praktek feng shui di UKSW beliau tidak dapat mengatakan memang benar ada ataupun  tidak ada. Beliau menyarankan agar SA melakukan penelusuran kepada pihak-pihak yang mengidentifikasi adanya praktek feng shui di UKSW, karena beliau sendiri tidak mengetahui dengan jelas mengenai batasan tindakan atau keberadaan benda-benda yang dianggap menggunakan prinsip-prinsip feng shui.

Disinggung mengenai pancuran batu hitam beliau menanggapi bahwa keberadaannya lebih kepada nilai keindahan, hal ini bukanlah sesuatu yang asing mengingat beliau berasal dari Bali sehingga jika gedung gereja di bali lebih tampak seperti pura merupakan hal yang biasa. Bukan merupakan hal yang prinsip mengenai keberadaan batu tersebut, sebagai unit penunjang campus ministry akan tetap melakukan pelayanannya, bahkan kalaupun isu itu benar tentunya justru seharusnya menjadikan pelayanannya lebih serius. Beliau menegaskan, karena UKSW adalah Universitas Kristen maka sudah menjadi keharusan bagi UKSW dalam rangka menjalankan kebijakannya harus berdasarkan nilai-nilai kristiani, namun demikian dalam rangka menafsirkan nilai-nilai kristiani tersebut tidak akan pernah lepas dari perspektif budaya. Keberadaan benda-benda yang ada disekeliling kita menjadi dikultuskan atau mengandung magis tergantung pada sikap dan cara pandang kita terhadap benda tersebut.

Kemudian SA melakukan konfirmasi kepada Rektor UKSW, Prof. Dr. Kris H. Timotius berkenaan dengan adanya isu feng shui di UKSW. Dengan tegas beliau mengatakan bahwa pimpinan UKSW tidak pernah membuat kebijakan secara lembaga dengan menggunakan prisnsip-prinsip feng shui. Keberadaan batu hitam yang ada di pintu masuk GAP bukan sengaja dihadirkan dalam rangka prktek feng shui tapi sebatas untuk keindahan, karena barang tersebut merupakan hadiah dari salah satu SMA di Bali ketika ada kunjungan dari pihak kampus. Di lain pihak tudingan mengenai penggunaan prinsip-prinsip feng shui oleh pimpinan UKSW bukan tanpa alasan mengingat salah satu staf di GAP (Linda Kusuma Effendy, SE., MM) merupakan pakar dalam hal feng shui, namun sangat disayangkan ketika SA tidak dapat menemui beliau, karena kesibukannya. Hal ini bukan berarti bahwa beliau tidak mau ditemui, karena beliau justru dengan sangat senang jika pembicaraan mengenai feng shui dapat dilakukan dalam seminar sehingga akan lebih akademis.

Mariska Lauterboom, S.Si-Teol -salah satu staf pengajar di Fakultas Teologi yang mengundurkan diri dari campus ministry­– sangat menyayangkan akan praktek feng shui di kampus, dicontohkan dengan adanya batu hitam dan penambahan sekat di depan tangga GAP merupakan salah satu praktek penerapan prinsip-prinsip feng shui yang mempunyai tujuan tertentu bukan hanya karena alasan keindahan semata. Beliau juga mendapatkan pengaduan akan adanya staf di GAP yang merasa kurang nyaman dengan adanya batu hitam tersebut, bahkan ada beberapa mahasiswa yang juga mengadu karena tidak diperkenankan menyetuh batu tersebut oleh petugas Satpam di GAP, sehingga batu tersebut memang benar-benar terkesan dikultuskan.

Di lain pihak, Sumardi yang merupakan kepala Kamtibpus UKSW mengaku tidak menerima instruksi dari pimpinan UKSW perihal larangan untuk menyentuh batu hitam tersebut, sehingga beliau tidak menginstruksikan anggotanya untuk memperingatkan orang yang hendak menyetuh batu tersebut. Menyinggung mengenai kenyamanan kerja, sampai sejauh ini belum ada yang mengadu ke bagian Kamtibpus, jadi ya nyaman-nyaman saja, bahkan batu tersebut lebih terkesan sebagai topik pembicaraan yang lucu, karena bentuknya yang aneh mirip alat kelamin laki-laki, tutur Pak Mardi sambil tertawa.

Lebih lanjut Mariska menegaskan bahwa kita tidak semestinya menduakan Tuhan dengan mengharapkan berkat dan keberhasilan dengan batu atau penataan ruang dengan prinsip feng shui. Ketika SA mengaitkan dengan konteks pluralitas, beliau berkomentar tidak ada masalah dengan adanya keberagaman suku, agama dan ras sejauh tidak mengganggu iman kita. Sebagai contoh adalah disediakannya ruang untuk sholat di kampus bagi yang muslim, bahkan itu justru semakin menguatkan iman kita lain halnya dengan keberadaan batu hitam yang justru meresahkan civitas.

Kristen sungguhan, apakah kekristenan yang kita jalankan sampai sejauh ini merupakan kristen sungguhan? Kita harus berani jujur pada khalayak, karena akan sangat tergantung kita menafsirkan kekristenan itu. Begitu tutur Drs. Tri Kadarsilo -seorang staf pengajar FISIPOL- menyikapi tentang kekristenan dan budaya. Lebih lanjut beliau menambahkan, agama-agama dalam prakteknya selalu hadir  dalam bingkai budaya, lain halnya dalam hal dunia spiritualitas khususnya spiritualitas kristen dengan dasar kasihnya. Menurutnya feng shui merupakan ilmu hitung yang bertitik tolak pada keselarasan alam mengingat asalnya dari budaya timur yang cenderung menganut paham ecosentris, tidak seperti agama barat yang teosentris. Karena itu merupakan ilmu hitung, maka tidaklah jauh berbeda dengan keberadaan suatu program aplikasi -excel atau SPSS- pada komputer. Apakah ada yang masalah dengan menggunakan atau tidak menggunakan feng shui, karena saya –Drs. Tri Kadarsilo- menghormati multikultural, jadi ya terserah saja.

Menjadi kristen ketika di gereja, ketika di luar saya –Drs. Tri Kadarsilo-  benar-benar menjadi orang Jawa yang lebih mengutamakan hidup bebrayan(bersama), saya tidak bisa mengatakan ini lebih benar atau itu salah karena ketika kita menganggap hal itu salah juga sudah merupakan suatu kesalahan karena kebenaran yang mutlak tidak akan pernah di temui di Bumi. Kebenaran yang ada akan selalu berada dalam bingkai -budaya, agama- sehingga kebenaran tersebut merupakan perspektif, terutama yang kuat ataupun yang berkuasa. Mempelajari dan mempraktekkan agama menggunakan nalar, dalam titik tertentu nalar akan mandheg (berhenti), berbeda dengan pengalaman iman seseorang yang tidak terbatas pada atribut-atribut agama. Menurut beliau kekristenan Satya Wacana memang sudah luntur sebelum adanya isu feng shui, kekristenan itu harus dimulai dengan orang peduli orang. Apakah kita -UKSW- memang sudah benar-benar secara serius peduli dengan masalah-masalah di Salatiga?

Prinsip kasih itu berarti menerima realitas apa adanya, sehingga tidak perlu ada rasa takut, kembali pada budi-pekerti bukan praktek-praktek keagamaan. Begitu tutur pak Tri menutup wawancara dengan SA.

Kita dapat bernafas dengan lega, ketika kita kembali membaca tanggapan Pak Noto (Rektor pertama UKSW) tentang perjumpaan iman kristen dan budaya sebagai berikut :

“…hubungan antara iman kristen dan kebudayaan adalah sebagai berikut: Iman kristen menyebabkan orang kristen menciptakan kembali dan mentransformasikan kebudayaan; oleh karena iman kristen manusia didorong untuk membudaya. Membudaya mencakup memberi direksi (redireksi) kepada kebudayaan, memurnikan kebudayaan (sanktifikasi) dan mengembangkan kebudayaan.

…kebudayaan itu merupakan kegiatan manusia (sebagai gambar Allah) untuk mengolah alam.

…kebudayaan dipengaruhi oleh pandangan manusia terhadap alam. Bila pandangan manusia terhadap alam itu adalah menyesuaikan diri terhadap alam maka timbul kebudayaan yang serasi dengan alam. Bila pandangan manusia terhadap alam adalah untuk menguasai alam maka akan timbul kebudayaan yang menguasai alam…”

Sampai di sini kita harus berani introspeksi diri. Bagaimana kebudayaan barat -tempat lahirnya agama-agama Teosentris- dengan revolusi industrinya? Bagaimana pula budaya timur yang kental dengan nuansa ekosentris? (SA- Slamet Haryono)

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on March 15, 2007, in Scientiarum and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: