Selamat Datang di UKSW Kampus Persemaian Demokrasi dan Kemanusiaan

 

Teman-teman mahasiswa baru yang saya kasihi, suatu kebanggaan yang besar ketika kami harus menyambut kedatangan teman-teman di kampus kita tercinta, kampus persemaian demokrasi dan kemanusiaan, UKSW.

Gemuruhnya persaingan di dunia kerja dan semakin memudarnya mentalitas serta integritas bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi ke-bhineka tunggal ika-annya menjadi tantangan tersendiri bagi UKSW untuk tetap eksis mencetak setiap generasi muda menjadi pemimpin yang menyinari dan menjadi berkat bagi bangsanya. Masa depan bangsa ini bukan ditentukan oleh mereka yang cerdas saja, tetapi oleh mereka yang telah diberkati, yang telah terpilih untuk menjadi terang bagi bangsanya, yang telah mempersiapkan diri baik-baik mulai dari sekarang…………

Adakah yang bisa dibanggakan?

Saya ucapkan selamat datang bagi mahasiswa baru, selamat datang di kampus kita tercinta Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Saya sangat berbangga atas keputusan teman-teman dalam memilih UKSW sebagai tempat untuk mengasah diri menyongsong masa depan. Mengingat bahwa di luar ada banyak sekali Perguruan Tinggi baik negeri ataupun swasta yang menawarkan berbagai layanan pendidikan dengan jaminan cepat lulus, cepat dapat kerja, fasilitas lengkap, biaya murah dan lain sebagainya. Lalu apa yang dapat dibanggakan dari UKSW?

Banyak hal yang dapat kita banggakan dari UKSW, mulai dari keberagaman etnis dan kepercayaan sampai tingkat perekonomian orang tua mahasiswa. Hubungan antara mahasiswa dan dosen yang memegang prinsip “Magistrorum et scholarium[2] dengan mengedepankan ke-partner-an sehingga bukan merupakan hubungan antara atasan dan bawahan. Hak-hak dan penghargaan terhadap mahasiswa dijunjung tinggi, hal itu diwujudnyatakan melalui keterwakilan unsur mahasiswa baik di Fakultas ataupun Universitas oleh Lembaga Kemahasiswaan (LK). Dengan demikian pengambilan kebijakan di dalam kampus, terutama yang menyangkut mahasiswa harus melibatkan LK. Hal ini patut dibanggakan mengingat bahwa di kampus lain, mahasiswa hanya sebatas pengguna jasa layanan pendidikan sehingga tidak perlu dilibatkan dalam pengambilan kebijakan. Dengan demikian menjadikan UKSW merupakan suatu “Indonesia mini”, kampus yang mengedepankan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan sekaligus kampus persemaian demokrasi.

Penerapan dan penjiwaan nilai-nilai tersebut dapat kita rasakan berkenaan dengan pelayanan yang diberikan pihak kampus mulai dari pejabat struktural[3], dosen, dan pegawai bukan dosen seperti pertugas perpustakaan, bagian tata usaha, bagian admisnistrasi dan registrasi maupun bagian kamtibpus. Sehingga menjadi sangat naif sekali ketika kita menjumpai dosen ataupun pegawai bukan dosen bertindak semaunya sendiri tanpa memperhatikan kita sebagai mahasiswa yang juga adalah manusia. Hal ini perlu disadari mengingat proses pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas saja, tetapi menyangkut seluruh sistem layanan yang ada di UKSW, karena pendidikan tidak hanya mengajarkan kita untuk menjadi penurut saja tetapi mengajarkan kita untuk berani berteriak ketika terjadi ketidakadilan dan peniadaan nilai-nilai kemanusiaan.

Terkadang nilai-nilai kemanusiaan itu tetap ada tetapi ketika terjadi ketidakadilan dan peniadaan nilai-nilai kemanusiaan kita hanya diam saja. Hal ini bisa terjadi jika nilai-nilai tersebut tidak kita latih dalam diri kita, yang menjadi pertanyaan adalah “apakah UKSW menyediaan wadah untuk mengasah nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi tersebut?”

“Bermahasiswa”[4] bukan sekedar mahasiswa

Kalau di kampus lain setelah kita diterima dan punya Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) maka kita sudah sah dianggap mahasiswa, namun di kampus kita “bermahasiswa” dimaknai lebih dari sekedar mempunyai KTM, kuliah dan lulus cepat dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi. Tanggungjawab dan dedikasi yang tinggi terhadap ilmu menjadikan lulusan kita mempunyai keunggulan dibandingkan lulusan dari perguruan tinggi lain. Karena UKSW telah mendesain profil lulusan dengan ciri khas minoritas yang berdaya cipta (creative minority)[5]. Apakah hal ini berarti bahwa kita dapat lulus dengan mudah dan cepat serta mempunyai keunggulan yang Creative minority tersebut tanpa harus bersusah payah ?

Tentu saja tidak, untuk menjadi pribadi yang Creative minority , bertanggungjawab dan berdedikasi tinggi adalah sebuah pilihan. Terdapat banyak wadah atau kesempatan yang memungkinkan bagi kita untuk mendapatkan hal itu melalui pelatihan-pelatihan, lomba, seminar, partisipasi dalam kelompok bakat dan minat (Olahraga, seni, jurnalistik, dan penalaran) yang kesemuanya itu terangkum dalam Lembaga Kemahasiswaan. Terdapat banyak sekali kelompok bakat dan minat yang ada di UKSW baik yang ada di Fakultas ataupun di Universitas mulai dari olahraga basket, volley, bela diri, teater, karawitan, vokal grup, robotika, karya tulis dan penelitian, pers kampus dan lain sebagainya.

Dengan melibatkan diri kita dalam kegiatan-kegiatan tersebut maka akan semakin membuka wacana kita dan membuat kita semakin yakin mengadapi tantangan masa depan, karena itulah UKSW ada.

Mengapa takut “bermahasiswa”

Sebagian orang sangat takut untuk melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan tersebut, ada yang takut jika akan mengganggu perkuliahannya, ada juga yang menganggap hal itu tidak penting dan hanya akan membuang waktu sia-sia. Tentunya akan ada banyak argumen yang  dilontarkan untuk menutupi ketidakmampuan kita melihat realitas. Persaan takut kita ketika melihat realitas tersebut bisa disamakan dengan perasaan kita ketika berada di tepi danau di tengah-tengah gunung dengan air yang jernih.  Sejujurnya kita sangat ingin merasakan kesejukan air itu, namun demikian kita sangat takut ketika kita menyentuhkan jari kita ke air tersebut dan ternyata dingin. Apakah kita berani mandi atau urung untuk mandi ?.

Berangkat dari cerita tersebut dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa ketakutan kita untuk terlibat dalam kegiatan disebabkan karena kita telah terlebih dahulu membuat persepsi yang salah tentang keterlibatan tersebut. Bukankah kita sepatutnya bersyukur telah diberikan akal budi, sehingga dengan akal budi tersebut kita dimampukan untuk dapat mengatasi tantangan jaman. Memang segala sesuatunya akan lebih indah jika kita melakukan berbagai kegiatan baik kuliah ataupun “bermahasiswa” sebagai bentuk ucapan syukur, bukan karena sekedar tuntutan ataupun prasyarat untuk memasuki dunia kerja.

“Bermahasiswa” apa yang bisa kita dapatkan?

Hal yang lebih menarik lagi ketika kita “bermahasiswa” adalah kesempatan untuk dapat mengolah ketrampilan manajerial serta mamahami suatu sistem. Sudah barang tentu dalam dunia kerja membutuhkan keteraturan, pembagian kerja yang jelas, pelaporan dan hierarki yang jelas. Agar proses produksi dapat berjalan lancar harus ada koordinasi yang baik antara bagian pemasok bahan baku, bagian produksi, dan bagian pemasaran. Jika salah satu dari bagian tersebut tidak berjalan maka akan terjadi  gangguan terhadap hasil yang diproleh, dan perusahaan bisa merugi. Sangat disayangkan jika hal itu terjadi pada diri kita ketika kita memasuki dunia kerja, hanya saja kita tidak terbiasa dan tidak terlatih untuk menghadapi kondisi tersebut. Seperti ada pepatah “ tidak ada kuda liar, yang ada hanyalah kuda yang belum terlatih”.

Dengan keterlibatan kita di Lembaga Kemahasiswaan memungkinkan bagi kita untuk dapat mempelajari “sistem” yang merupakan prototipe dari perusahaan, negara ataupun alam semesta yang penuh dengan keteraturan. Kita menjadi tahu bagaimana profil lulusan UKSW di desain melalui Skenario Pola Pengembangan  Mahasiswa (SPPM), kita menjadi tahu aturan-aturan yang berlaku dan mengapa hal itu diberlakukan seperti dalam Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa (KUKM), kita menjadi tahu bagaimana suatu kegiatan bisa dilaksanakan dan bagaimana harus melaporkannya, dan masih banyak lagi yang bisa kita dapatkan. Sebagai catatan untuk itu adalah, kesusksesan bukan hanya ditentukan oleh kualitas personal namun demikian juga tergantung pada seberapa kuat dan luasnya jejaring yang kita bentuk. Kesadaran sedini mungkin akan hal ini dapat menyeimbangkan keterlibatan kita di Lembaga Kemahasiswaan untuk tidak hanya mengejar keunggulan diri semata, tetapi sebuah proses bersama menuju kematangan diri.

Seiring dengan keterlibatan kita di Lembaga Kemahasiswaan, kita justru berkesempatan untuk memperoleh ilmu yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat Fakultas atau Program Studi yang kita ambil melalui diskusi-diskusi dan terlibat bersama-sama dalam sebuah kepanitiaan dari mahasiswa Fakultas yang lain. Dengan demikian sangatlah memalukan bila prestasi akademis kita tidak lebih baik daripada mereka yang tidak terlibat di Lembaga Kemahasiswaan. Tentunya hal ini akan semakin menambah bobot dan warna lulusan kita sehingga layak untuk disebut sebagai “minoritas yang berdaya cipta”.

Pesan Sponsor

Memang benar ada banyak kesempatan yang ditawarkan kepada kita, namun demikian saya tegaskan sekali lagi bahwa bagaimanapun profil lulusan di desain jika kita memutuskan untuk sekedar berkuliah dan hanya sekedar menjadi mahasiswa maka kita akan sangat rugi besar, bukan hanya saat ini tapi juga masa depan kita. Saya tidak dapat menjelaskan secara rinci bagaimana struktur LK dan pembentukannya. Teman-teman penasaran? Jika penasaran berlanjut hubungi kantor LK terdekat. Hidup mahasiswa……!!!


[1] Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas Periode 2005-2006. Mahasiswa Fakultas Biologi

 

[2] Persekutuan antara pengajar (dosen) dengan yang diajar (mahasiswa).

[3] Rektor, Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan dll

[4] Partisipasi aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan.

[5] Meskipun dalam jumlah yang kecil tetapi mampu menunjukkan jalan bagi bangsanya dan dapat membimbing masa yang pasif menjadi penganut yang giat karena superioritas jiwa dan roh serta kekuatan keyakinannya.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on August 5, 2006, in Materi Pelatihan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: