Lembaga Kemahasiswaan Universitas Kristen Satya Wacana di Tengah Pergumulan Pergerakan Mahasiswa Nusantara

I. Sebuah Introspeksi

Selasa, 21 Februari 2006 saya baru saja mengikuti Konggres Mahasiswa Nusantra. Selama tiga hari konggres, saya bergumul dengan keberadaan Lembaga Kemahasiswaan (LK) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Dalam pergumulan saya tersebut, kita (UKSW) merasa sangat kecil sekali, kita tidak ada apa-apanya, jangankan UKSW para peserta dari seluruh penjuru nusantara –selain dari Jawa Tengah- tidak ada yang mengetahui Salatiga itu dimana. Benarkah LK UKSW masih ada? Kalau ada dimanakah sekarang? Apa saja yang sedang dikerjakannya?

Berdasarkan pertanyaan tersebut di atas, sudah menjadi tanggung jawab kita untuk menunjukan eksistensi LK kepada dunia luar, tetapi setidaknya dapat kita lakukan dari dalam lembaga kita sendiri.

II. Mengapa LK UKSW Enggan Terbangun dari Keterpurukan

Keberadaan LK UKSW yang menggunakan model Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT) mempunyai beberapa konsekuensi antara lain : LK merupakan satu-satunya wadah pengembangan kreatifitas mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) berada dibawah LK, keberadaan organisasi ekstra universiter berbasis ideologi tidak dapat berkembang di  dalam kampus, kekuatan mahasiswa terpecah belah oleh fakultas-fakultas, LK menjadi mlembaga yang elitis dan kurang progresif.

Dari konsekuensi tersebut di atas, baik secara langsung atau tidak langsung memperngaruhi corak berpikir dan model pergerakan LK UKSW. Karena LK merupakan satu-satunya wadah pengembangan kreatifitas mahasiswa maka kita (fungsionaris) merasa diri cukup kuat, sehingga kita tidak perlu lagi bersusah-susah memperbaiki LK toh LK  akan tetap ada. Keberadaan LK menjadi terlalu datar karena tidak mendapatkan saingan dari organisasi lain seperti UKM, Pramuka, Menwa. Dengan demikian indikator keberhasilan berlembaga tidak melulu dipengaruhi oleh kualitas kegiatan, tetapi justru dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, sehingga akan terkesan paling hebat diantara SEMA yang lain, bahkan terhadap SMU.

LK di Perguruan Tinggi (PT) yang lain[3] merupakan ajang perebutan kekuasaan organisasi ekstra universiter berbasis ideologi, yang notabene organisasi tersebut merupakan underbow dari partai politik yang ada. Adanya persaingan antar organisasi tersebut memungkinkan terjadinya seleksi dan kontrol yang kuat terhadap setiap pemegang kekuasaan. Dengan kata lain bahwa model Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) mensyaratkan adanya perbedaan kekuatan mahasiswa yang terbagi di dalam partai-partai yang berebut kekuasaan tertinggi (di Universitas).

Di sisi lain kekuatan LK UKSW terbagi-bagi atas Fakultas-Fakultas, dan sayangnya kekuatan ditingkatan Universitas tidak lagi menjadi perebutan karena keberadaannya sama seperti fakultas yang ke 15. LK UKSW merasa tida k perlu lagi berbenah diri karena sudah merasa menjadi yang terbesar di Salatiga?

Dari berbagai kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan prisipil fingsionaris menjadi sangat minim sekali. Seolah-olah jika sudah bisa membuat proposal kegiatan dan hafal sedikit pasal dalam KUKM sudah menjadi Fungsionaris yang hebat. LDKM sebagai media penggodogkan calon pemimpin akan Fungsionaris terkesan sabagi syarat formal belaka. Lebih parah lagi dalam kondisi ketidak berdayaan LK tersebut, para Fungsionaris dengan terburu-buru membuat seperangkat aturan pewajiban kepada mahasiswa dengan asusmsi bahwa sikap mahasiswa yang tidak peduli terhadap LK menjadi penyebab utama keterpurukan LK.

Sudah barang tentu pola pendekatan anailis yang semacam demikian justru membuat keberadan LK menjadi semakin teralienasi dari mahasiswa, LK tidak lagi berpihak kepada mahasiswa, dan LK tidak lagi mampu menunjukkan kontribusinya keluar kampus, karena terlalu rapuh di dalam.

III. Apa yang Bisa Kita Lakukan

Sebagai satu-satunya wadah pengembangan kreatifitas mahasiswa di dalam Kampus, sudah barang terntu kita mesti berbenah diri, antara lain melalui:

  • Revitalisasi Struktur

Desain LK UKSW sekarang barangkali sudah cukup bagus, namun demikian bukan berarti kita lupa diri untuk tidak mengevaluasi kinerja lembaga ini. Perlu kita sadari bersama bahwa tantangan LK UKSW bukan hanya seputar keterbatasan Fasilitas kampus, pembiayaan, rezim yang berkuasa, sistem pendidikan trimester tetapi juga kita harus melihat kuatan poloitis di luar kampus. Ketidakmampuan Fungsionaris dalam memahami dan menjalankan LK akan sangat mudah sekali digunakan sebagai kuda tunggangan oleh broker untuk kepentingan pribadi yang tidak bertanggungjawab. Di sisi lain keberadaan UKSW sebagai salah satu PT Kristen menjadi suatu tantangan yang sangat besar, mengingat adanya kecenderungan pengusasan kekuatan mahasiswa oleh organisasi kanan radikal. Terlebih lagi jika kita  sangkaut pautkan dengan agenda neolib, maka kita kan menjadi sangat kecil…………

Sudah waktunya bagi kita mencari sutu desain LK yang berbasis fungsional, baik fungsi polotis internal kampus dalam rangka keberpihakan terhadap kepentingan mahasiswa; keluar kampus sebagai bentuk kepedulian terhadap penderitaan rakyat; dan sebgai media pembelajaran untuk mengembangkan kreatifitas diri.

  • Revitalisasi Pengelolaan Sumber Keuangan

Harus disadari bahwa kekuatan pergerakan mahasiswa selain basis ideologi juga berbasisi materi. Dengan pembagian keuangan di Fakultas atau di HMP maka kebutuhan LK untuk bersatu hanya sebatas koordinatif dalam rangka memperlancar proses birokrasi keuangan dalam penyelnggaraan kegiatan. Efektifitas dan keberhasilan suatu lembaga dapat dinilai dari penggunaan dan pengeloaan keuangan yang ada. LK UKSW merupakan sutau lebaga yang sangat tidak efektif dan efisien dalam mengelola keuangan. Itupun kita masih haus merangkak menghadap sang penguasa modal untuk berbelas kasihan, dimanakah idealiame kita?

Barangkali pendekatan pengelolaan keuangan terpusat menjadi salah satu alternatif, namun demikian eksekusi kegiatan harus lebih  diarahkan ke bawah, dalam hal ini Fakultas dan UKM.

  • Penguatan Pembinaan Kader

Kebutuhan akan kader-kader berkualitas tidak akan cukup hanya dengan LDKM ataupun pelatihan-pelatihan sejenisnya. Pendekatan melalui komunitas-komunitas diskusi terbukti menjadi lebih efektif, dengan desain yang luwes dan tidak terlalu formal.

Beberapa hal yang saya sampaikan tadi tidak akan bermakna apa-apa jika hanya sebatas wacana saja, dibutuhkan kebulatan tekad bersama dan kekuatan jiwa dan roh untuk mengispirasi diri kita untuk segera bangkit dari keterpurukan. Hidup mahasiswa…………


[1] Disampaikan dalam LDKM FBS, Salatiga 4 Maret 2006

 

[2] Mahasiswa Fakultas Biologi, Ketua Umum SMU UKSW periode 2005-2006.

[3] LK pada PT yang lain kebanyakan menggunakan model BEM, yang memungkinkan berdirinya partai-partai dan pemilu raya.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on March 4, 2006, in Materi Pelatihan and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

    • Terima kasih sudah mau berkunjung di blog saya. Kalau anda ada blog juga, boleh di share ke saya, kalaupun belum punya ya tidak apa-apa.
      Silahkan berbagi pemikiranmu lewat komentar di log ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: