“Pendidikan Gratis”

Mencari Pendidikan Gratis di UKSW?

Boleh jadi kita frustasi akan mahalnya biaya pendidikan, belum lagi cepatnya frekuensi pembayaran ditambah denda keterlambatan. Harus diakui bahwa sistem pembayaran keuangan yang ada di UKSW saat ini cenderung memberatkan mahasiswa, hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya pemohon dispensasi yang mengantri di WR III. Bisa dibayangkan, bahwa dengan model yang ada sekarang mahasiswa diwajibkan melakukan pembayaran keuangan dua kali dalam tiap trimester dan dalam setahun ada tiga trimester dengan kata lain mahasiswa melakukan enam kali pembayaran dalam setahun. Boleh dikatakan bahwa tiap dua bulan sekali mahasiswa harus melakukan pembayaran. Jika tidak di tepai maka akan mendapatkan denda. Sungguh ironis memang, mahasiswa yang belum bisa melakukan pembayaran karena belum mendapatkan uang justru ditambahi harus menanggung denda, padahal untuk membayar tagihan pokoknya saja masih belum bisa. Di sisi lain akumulasi dari uang denda juga tidak diketahui  pemanfaatannya.

Nampaknya pemberlakuan denda tidak hanya untuk keterlambatan pembayaran biaya kuliah saja, tetapi juga diberlakukan untuk keterlambatan pengembalian buku perpustakaan. Dengan keterbatasan koleksi yang ada dan pemeberlakuan sistem tertutup nampaknya bukanlah suatu alasan yang tepat untuk menaikan denda keterlambatan. Boleh jadi pihak pengelola perpustakaan geram karena banyaknya buku yang hilang dan mahasiswa cenderung terlambat mengembalikan buku. Fenomena hilangnya buku dan keterlambatan pengembalian tidak bisa dilihat dari perspektif pengelolanya saja, boleh jadi fenomena tersebut menunjukkan kurangnya profesionalisme pihak pengelola perpustakaan atau lemahnya teknologi yang digunakan. Untuk permasalahan tersebut barangkali diperlukan pelatihan kusus bagi segenap karyawan perpustakaan dan kalau perlu kita hadirkan teknologi canggih untuk mengantisipasi hilangnya buku. Sedangkan untuk keterlambatan pengembalian buku, haruslah  diperhatikan bahwa di sistem pendidikan yang seperti sekarang ini jangka waktu pengembalian buku juga harus diperpanjang. Dahulu (dwi)semester saja bisa jadi trimester, kenapa pengembalian buku yang dwiminggu tidak menjadi triminggu?.

Mana Pendidikan Gratisnya?

Memahami pendidikan janganlah hanya dipahami dengan kuliah tatap muka saja. Pemahaman yang semacam itu tidaklah salah, namun kebanyakan dari kita memahaminya demikian, apalagi memang sejak awal sebelum masuk UKSW sudah dipromosikan untuk tiga setengah tahun selesai. Seolah-olah terkesan bahwa waktu kuliah adalah untuk berkuliah (tatap muka) saja, dan tidak ada kesempatan untuk mendapatkan “pendidikan gratis”. Berikut ini adalah beberapa cara mendapatkan “pendidikan gratis”

Boleh jadi “pendidikan gratis” tersebut ada banyak disekitar kita, namun kita tidak menyadarinya. Bisa dibayangkan jika kita memaknai pendidikan hanya dengan tatap muka di kelas selama tiga setengah tahun, maka kita akan sengat menyesal sementara ada banyak kesempatan bagi kita untuk mendapatkan tambahana “pendidikan gratis”.

Setiap orang yang kita temui dan terlibat dalam proses untuk mencapai tujuan tertentu, merupakan salah satu sumber “pendidikan gratis”.  Jika di UKSW terdapat 11.000 mahasiswa, maka kita punya 10.999 sumber “pendidikan gratis”. Sudah barang tentu kita tidak mungkin menjangkau mereka semua, oleh karena itu kita perlu media untuk dapat menyeleksi sekaligus mengasah kemampuan kita seperti di Kelompok Pecinta Alam, Kelompok Diskusi, Persekutuan Doa dan Lembaga Kemahasiswaan (LK). Bahkan di Lembaga Kemahasiswan kita tidak hanya belajar dengan mahasiswa di dalam kampus, tetapi juga di luar kampus. Bahkan tidak menutu kemungkinan kita dapat tudi banding dengan mahasiswa se nusantara.

Mengapa LK? Kalau hanya sekedar berinteraksi, maka tidaklah harus melalui LK. Pendekatan yang dilakukan melalui LK adalah pendekatan kelembagaan, bukan personal. Dengan demikian dalam setiap ide atau gagasan yang dilontarkan tidak semata-mata berdasarkan kebutuhan pribadi, tanggung jawab yang dipikul karena kita membawa nama UKSW menjadikan kita untuk berpikir kritis dengan pertimbangan yang matang. Pendekatan kedua adalah konstruktif dan analitis. Bahwa setiap pemikiran ataupun tindakan yang dilakukan bukan hanya karena iseng, tetapi melalui proses perencanaan yang baik.

Melalui LK kita juga memungkinkan untuk mendapatkan informasi tentang beasiswa. Memang tidak semua mahasiswa yang menjadi fungsionaris langsung dapat beasiswa, tetapi setidaknya mendapatkan peluang yang lebih besar. Terlebih lagi jika LK mampu untuk mengalihkan dana denda untuk dikelola LK dalam rangka memberikan beasiswa ke mahasiswa. Bahkan mahasiswa dapat mendapatkan tambahan uang kuliah tambahan melalui kegiatan perlombaan yang diselenggarakan LK, seperti Lomba Karya Tulis Ilmiah. Bukan hanya masalah uang yang kita peroleh saja, tetapi proses yang di lalui juga merupakan suatu “pendidikan gratis” yang tidak ternilai harganya.

Lebih jauh lagi LK diharapkan juga dapat menyediakan lapangan pekerjaan bagi mahasiswa, dalam hal ini tenaga paruh waktu. Sudah waktunya bagi LK untuk menginvestasikan sebgaian dananya untuk sebuah badan usaha yang dapat melibatkan mahasiswa,  bukan hanya untuk mengadakan kegiatan. Untuk dapat membuat sebuah badan usaha tentunya dibutuhkan dana yang tidak sedikit, oleh karena itu kekuatan keuangan LK harus disatukan. Jika tidak maka LK hanya sebagai penyelenggara kegiatan belaka dan tidak dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa, dan jika kebutuhan mahasiswa tidak dapat dipenuhi maka LK akan ditinggalkan mahasiswa.

Harga yang Paling Mahal

Dalam pendidikan, harga yang paling mahal adalah pelajaran untuk dapat menghargai orang lain. Disaat kita tidak bisa menghargai orang lain maka jelaslah kita tidak akan mendapatkan ilmu apapun dari orang itu, baik itu gelarnya Profesor atau sesama mahasiswa sekalipun. Ketidak mampuan kita untuk tidak dapat menghargai orang lain menyebabkan lemahnya dorongan kita untuk berinteraksi positif dengan orang lain. Untuk dapat berinteraksi secara positif dengan orang lain maka kita membutuhkan kerja yang teratur, seperti halnya kerja dari organ tubuh kita. Oleh karena itu kita perlu untuk belajar berorganisasi, agar apa yang menjadi pikiran atau masalah dalam diri kita dapat diekspresikan dengan baik sehingga permasalahan seperti kenaikan biaya kuliah, denda keterlambatan dan lain sebagainya dapat kita tangani bersama. Kita sendiri sebagai mahasiswa tidak dapat berbuat apa-apa, tapi kita sebagai lembaga dapat melakukan itu semua, sejauh kita masih mau peduli dan mau menghargai.


[1] Mahasiswa Fakultas Biologi, Ketua Umum SMU Periode 2005-2006.

 

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on January 6, 2006, in Artikel and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: