Ratu Adil dan Pagebluk di Negeri Elkadiraja

I. Paradigma Mata Ikan : Suatu Pengantar

Lembaga Kemahasiswaan (LK) UKSW yang diyakini sebagai bagian dari Gerakan Mahasiswa (GM) mempunyai PR (pekerjaan rumah) yang harus segera dikerjakan yaitu berkenaan dengan pertanyaan “masihkah (LK) UKSW menjadi bagian dari GM itu?”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita tidak dapat memakai cara-cara yang instant hanya dengan cara memilih pimpinan baru, atau sebatas mengamandemen KUKM. Tentulah sebagian orang akan mecari-cari alternatif lainnya yang pada dasarnya hanya merupakan turunan dari kedua cara di atas seperti lemahnya Sumber Daya Manusia (SDM), kurangnya kaderisasi, lemahnya dukungan mahasiswa dll.

Alternatif-alternatif semacam itu telah mengemuka sejak dulu kala yang pada dasarnya merupakan gejala-gejala yang nampak oleh karena ketidakmampuan melihat realitas[3] secara mendalam. Gejala-gejala tersebut terkspresi sebagai kamuflase untuk memberikan kesan bahwa kita (Fungsionaris LK) telah cukup kritis dan telah berusaha secara maksimal. Namun demikian makanisme alamiah yang akan membuktikan, bahwasanya kamuflase dan serangkaian pemikiran imitasi tersebut akhirnya terkelupas dan tidak dapat berkontibusi secara signifikan selain menambah kosakata baru sebagai bahan diskusi di kafe.

Peryantaan-pernyataan tersebut di atas sangatlah mungkin untuk ditolak oleh para penganut status quo tidak menutup kemungkinan mereka yang sudah khatam mempelajari KUKM dan SPPM terlebih yang baru saja membaca mukadimah.

II. Menemukan Energi Baru

Para penganut aliran status quo mempunyai ritual tersendiri untuk menemukan energi-energi baru tersebut misalnya dengan melakukan studi banding, mencari atau menjagokan seorang mahasiswa untuk diangkat menjadi “dewa”nya mereka dalam rangka mengatasi pagebluk yang menimpa negeri Elkadiraja[4]. Dalam versi lain di suatu negeri yang menjadi patron kebanyakan warga Elkadiraja, membuat patung lembu emas sebagai tempat pencurahan dan penambatan harapan mereka yang sedang berkesusahan. Dalam mitologi orang Jawa juga tidak pernah lepas dari penantian lahirnya sang ratu adil untuk mengatasai krisis di negerinya tersebut.

Konsep tersebut tidak kemudian dicampakan dan dinilai sebagi suatu pandangan yang salah begitu saja, barangkali dalam satu periode tertentu hal itu bisa terjadi. Namun demikian pemahaman yang salah akan ratu adil ataupun lembu emas akan menempatkan negeri Elkadiraja dalam keadaan kemelut yang tidak berujung. Masing-masing punggawa[5] bahkan rakyat sekalipun akan sangat dengan mudah mencurahkan segala beban kegagalan dan kelemahan serta ketidak adilan tersebut pada orang yang dianggap ratu adil tersebut. Hal itu akan terus berlangsung selama pemahaman tentang ratu adil serta prestise dan segala pernak-pernik  kemewahan yang ekslusif masih menjadi daya tarik yang senantiasa mengalir bagai lumpur porong.

Energi inti yang hakiki hanya bisa diperoleh jika terdapat kesadaran yang mendalam untuk saling menyatukan diri satu dengan yang lain dari keseluruhan elemen yang ada. Dengan demikian pembaharuan dan penguatan bisa terjadi secara harmonis, satu dengan yang lain tidak menumpukan beban dan tanggungjawab pada satu orang saja. Dengan demikian kosep ratu adil bukan hanya menjadi satu orang saja yang mengatur dan berdaulat atas keseluruhan kebijakan di Elkadiraja, tetapi terdapat keadilan pembagian kerja yang mandiri namun harmonis.

III. Menuju Habitus Baru Gerakan Mahasiswa

Sampai pada penjelasan di atas kita masih terperangkap di dalam samudara teoritis belaka. Hal ini tentunya akan sulit dipahami bagi para cantrik[6], untuk lebih mudahnya akan dijelaskan satu-satu dan bertahap prosesi penyambutan sang ratu adil tersebut.

Pertama, memperbaiki konsep ratu adil sebagai figur salah satu pemimpin menjadi suatu iklim kepemimpinan. Hal ini dalam dunia organisasi modern dikenal dengan istilah demokratisasi, yang selalu beroposisi dengan konsep otoritarian. Model yang dianut sampai sejauh ini masih nenempatkan ketua umum sebagai penentu kebijakan tertinggi, meskipun secara teroritis hal itu tersamarkan sebagai suatu kebijakan lembaga namun dalam prakteknya otoritarian dalam pengertian yang lebih luas[7] selalu terjadi. Konsep ratu adil dalam tataran praktis adalah masing-masing elemen berkontribusi secara adil dan mandiri namun harmonis dalm menghasilkan suatu kebijakan, bukan hanya saat mengambil keputusan atas suatu kebijakan. Untuk itu setiap-orang yang tau akan hal ini diutus menjadi nabi-nabi[8] baru menyebarkan pemahaman ini kepada rakyatnya masing-masing.

Kedua, Setiap rakyat atau punggawa harus belajar tapabrata[9] agar dapat melihat realitas baru dan lepas dari sindrom mata ikan. Tapabrata yang dimaksud adalah tiap-tiap fungsionaris dalam kesibukan dan padatnya kegiatan kuliah harus senantiasa mengasah keahliannya terutama dalam menganailis setiap fenomena yang terjadi. Dengan demikian model diskusi ataupun hanya obrolan multidisipliner menjadi salah satu alternatif yang tepat.

Ketiga, Menegaskan setiap pokok pencerahan menjadi materi tertulis. Harus ada minimal salah satu orang yang hadir untuk menuliskan pokok-pokok pencerahan yang diperoleh selama diskusi ataupun obrolan tersebut. Pokok-pokok pikiran tersebut selanjutnya dapat diperbanyak untuk mengispirasi rakyat Elkadiraja, ataupun jika memungkinkan terjadinya suatu revolusi maka dapat dijadikan sebagai salah satu bahan dasar untuk membuat konstitusi baru.

Keempat, Mengintensifkan pertemuan-pertemuan yang khusus mengagendakan pembahasan pokok-pokok pikiran pencerahan dan penjajagan dilakukannya formalisasi. Sebagai contoh masalah-masalah yang ada dianalisis dari bawah, kemudian dilihat ke atas apakah sudah ada aturan yang mengakomodir hal itu. Jika  belum maka perlu dilakukan pembuatan aturan akan hal itu, namun bukan hanya dilakukan oleh satu tim saja yang bekerja ekstra keras. Nampaknya pendekatan bottom-up lebih tepat untuk saat ini.

Kelima, memperluas wilayah kekuasaan. Dalam pengertian yang lebih luas bukan berarti wilayah kekuasaan tetapi kemampuan untuk secara lembaga mempengaruhi atau berkontribusai dalam lingkungan yang lebih luas, bukan hanya dalam kampus. Kondisi ini akan bisa tercapai jika memang kondisi internal sudah stabil dan terkendali. Namun demikian hal ini akan sulit mengingat bahwa LK sendiri juga kehilangan banyak daerah kekuasaanya di dalam kampusnya sendiri. Sebagai contoh adalah akses atas kegiatan prakuliah ataupun keterlibatan dalam pengambilan kebijakan dalam kampus.

Keempat tahampan tersebut tidak menjamin hanya satu kali siklus dan kita bisa memperbaiki keadaan, namun demikian harus senantiasa digulirkan terus-menerus sebagai suatu spiral sejarah[10] bukan hanya siklus sejarah.

IV. Penutup

Semua yang telah dipaparkan memang agak kurang tepat dijadikan contekan membuat GBHPLKU, tetapi lebih tepat sebagai wahana yang harus dimengerti sebelum menyusun GBHPLKU. Mengingat bahwa melalui GBHPLKU arah dari LK UKSW ke depan akan ditentukan. Sudah barang tentu tulisan ini tidak menjawab secara langsung kecenderungan-kecenderungan internal-eksternal, penulis mohon maaf untuk itu. Namun demikian hal ini dilakukan atas dasar keterbatasan waktu yang ada, sehingga kecenderungan-kecenderungan yang ada tidak sempat dimasukan.

Jika terdapat ketidakpahaman akan konsep ataupun istilah yang digunakan, penulis menyediakan diri untuk dilakukan diskusi lebih lanjut, setidaknya kita dapat mewujudnyatakan tahap kedua dari serangkaian tahap menuju habitus baru Gerakan Mahasiswa. Hidup mahasiswa.


[1] . Disampaikan atas permintaan BPMU dalam rangka penjaringan aspirasi dan kecenderungan-kecenderungan internal eksternal.

 

[2] . Mahasiswa Fakultas Biologi, Ketua Umum SMU 2005-2006.

[3] . Realitas yang dimaksud adalah fenomena seputar terpuruknya GM nasional dan LK ditingkat lokal

[4] . Menunjukkan suatu kesatuan elemen pemerintahan, pengusa, dan wilayah yang tidak hanya sebatas organisasi yang disebut LK.

[5] . Padanan kata untuk Fungsionaris LK yang mempunyai posisi-posisi strategis/jabatan tinggi.

[6] . Teruna yang sedang berguru di suatu padepokan.

[7] . Otoritarian Lembaga, bukan hanya oleh satu orang tapi bisa juga satu lembaga.

[8] . Bukan nabi seperti nabi-nabi dalam ajaran agama, karena nabi-nabi hanya ada 25 menurut salah satu ajaran tertentu. Karena tugas-tugas dari nabi-nabi tersebut dilanjutkan olah para aktivis.

[9] . Bersemadi, tirakat, prihatin, menahan hawa nafsu menuju pencerahan batin

[10] . Perubahan progresif yang didasarkan oleh perulangan sejarah yang nyaris identik.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on October 6, 2005, in Materi Pelatihan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: