Prawacana Menjelang Pemilihan Rektor 2005-2009

Oleh : Slamet Haryono

 

I. PENGANTAR

Salam juang, untuk kawan semua baik yang masih mau dan mampu berjuang ataupun yang telah kelelahan berjuang.

Hal mendasar yang harus dipahami mengenai latar belakang penulisan ini adalah bukan merupakan sebuah upaya provokasi ataupun tulisan yang bersifat menggurui, penulis lebih sependapat jika tulisan ini lebih dapat diterima sebagai suatu perenungan yang harus direnungkan dan dikaji ulang. Mengingat teknik penulisan ini sangatlah subyektif pengamatan penulis yang tentunya tidak dapat terlepas berbagai atribut kelemahan dan kekurangan dimana-mana. Namun demikian tanpa bermaksud untuk membatasi kebebasan pembaca dalam mengintepretasi tulisan ini, penulis menganjurkan para pembaca agar sedikit melupakan siapa yang menulis tulisan ini, hal ini dimaksudkan agar kita masing-masing tidak terjebak dalam situasi konflik personal, bukannya memperdebatkan substansi tulisan ini.

Akhirnya kita semua harus bersiap untuk manapaki berbagai tantangan ke depan yang semakin kompleks, itu semua harus disadari dari sekarang karena akan sangatlah menyakitkan suatu proses penyadaran yang terlambat. Hal itu haruslah dimulai dari sekarang, barangkali diawali dengan membaca tulisan ini.

 

II. PAS PHOTO TERBARU UKSW

Agaknya terlalu naif jika kita membicarakan seputar pemilihan rektor  sementara kita tidak mengetahui kabar terbaru tentang UKSW. Baiklah kita menyimak bersama  prestasi-prestasi yang telah dicapai selama beberapa tahun terakhir.

 

A. Sistem Pendidikan Trimestar

Meskipun semua fakultas saat ini telah menggunakan Trimester, bukan berarti hal itu tidak akan menimbulkan masalah lagi. Hal yang perlu dicatat adalah jika rektor yang baru tidak merasa nyaman dengan Trimester maka bukanlah tidak mungkin akan kembali terjadi perubahan lagi, entah kembali ke sistem Semester atau yang lainnya. Tetapi nampaknya   perubahan ke sistem Trimester ini akan jauh diminati oleh pihak Universitas baik itu dosen maupun pegawai bukan dosen, mengingat bahwa dengan sistem pendidikan yang seperti ini memberikan sedikit tambahan jaminan kesejahteraan pegawai. Hal ini sungguh merupakan perbuatan yang mulia, namun demikian akan menjadi sebaliknya jika pelayanan yang diberikan kepada mahasiswa baik dalam situasi perkuliahan ataupun fasilitas pendukung tidak sebanding dengan investasi yang ditanamkan oleh orangtua mahasiswa.  Bagi mereka yang benar-benar takut akan Tuhan tentunya akan sangat hati-hati memberikan pelayanan kepada mahasiswa, bukannya memanfaatkan momentum ini sebagai alasan untuk semakin menghujani mahasiswa dengan tugas-tugas untuk menutupi kekurangsiapannya menghadapi Trimester.

Besar kemungkinan rektor baru 2005-2009 adalah orang yang juga gigih memperjuangkan Trimester, tidak menutup kemungkinan juga rektor yang menjabat sekarang. Hal ini sangatlah manusiawi untuk dilakukan sebagai tanggungjawab moral terhadap UKSW dan juga yang telah  menghadirkan Trimester ke Universitas ini. Jika hal ini tidak dilakukan maka sangatlah merisaukan akan adanya kemungkinan pergolakan.

Sebagai catatan tambahan, perubahan ke sistem Trimester ini belumlah menjanjikan akan kepastian masa depan mahasiswa untuk memeperoleh pekerjaan yang sesuai dan layak.  Sistem ini lebih terfokus kepada upaya untuk memproduksi mahasiswa dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Dengan demikian tidak menyisakan terlalu banyak residu mahasiswa fosil yang notabene menjadi beban dalam rangka menjalankan sebuah sistem pendidikan yang sehat. Hal ini sangatlah mendukung upaya untuk menaikkan citra dan gengsi masing-masing Program studi ataupun Fakultas yang bersangkutan saat akreditasi. Akhirnya dengan akreditasi yang meningkat sangatlah berpeluang untuk meluaskan jaring dalam manangkap calon mahasiswa baru. Upaya memproduksi lulusan mahasiswa tersebut bukanlah sesuatu yang salah, hal ini merupakan suatu gagasan yang ideal mengingat selera pasaran sangatlah menggemari lulusaan yang lebih cepat, yang tentunya selama proses pendidikan yang begitu cepat tersebut tidaklah mengesampingkan kesejahteraan mereka yang memproses lulusan tersebut. Tantangan terbesar dengan sistem ini adalah bagaimana menciptakan kondisi agar slogan “Takut akan Tuhan………” dan yel-yel Creative Minority tetaplah melekat pada setiap lulusan, bukannya memudar saat resah tidak mendapat pekerjaan.

 

B. Fasilitas Penunjang pendidikan

Dengan atau tanpa pemberlakuan Trimester, peningkatan fasilitas penunjang tetaplah harus diperhatikan, termasuk juga pelayanan terhadap mahasiswa. Mengingat sistem pembayaran telah dikemas sedimikian rupa untuk dibayarkan dimuka sementara tidak ada jaminan pelayanan dan hasil yang diperoleh. Sebagai contoh adalah sistem pembayaran perkuliahan, asuransi kesehatan, layanan member internet semuanya dibayarkan dimuka dan hanya tertinggal seidikit sisa pembayaran biaya perkuliahan yang dibayarkan tidak terlalu dimuka.  Melihat berbagai kebijakan sistem pembayaran tersebut terkesan adanya suatu paksaan kewajiban yang begitu kuat, sementara itu hak-haknya sedikit diabaikan. Terlebih lagi jika uang yang telah dibayarkan baik untuk asuransi kesehatan maupun layanan internet tidak digunakan akan hangus di lain pihak mahasiswa baru tidak punya pilihan untuk tidak mengikuti program tersebut.

Hal yang lebih ironis lagi kita temui berkenaan dengan layanan penggunaan perpustakaan. Dengan sistem pendidikan Trimester yang mengedepankan “academic excellent” seperti sekarang ini justru mahasiswa dibatasi dalam mengakses buku-buku yang ada di bagian sirkulasi dengan dalih terlalu banyak buku yang hilang tiap bulannya. Kalaupun akses tidak dibatasi  toh masiswa juga masih kesulitan untuk mendapatkan informasi yang terbaru, mengingat buku-buku yang tersedia yang kebanyakan telah lanjut usia, apalagi skarang aksesnya dibatasi.  Mahasiswa diharuskan untuk membayangkaan isi dari sebuah buku hanya dengan membaca judul dan nomor panggil, dengan demikian faktor keberuntunganlah yang paling menentukan agar mahasiswa mendapatkan buku yang diharapkan. Sehingga tidaklah mengherankan jika mental untuk mecoba keberuntungan dengan bermain Togel marak di kalangan mahasiswa akhir-akhir ini yang untung saja sudah ditutup.  Memang tidaklah dapat semudah itu kita tarik korelasi antara layanan perpustakaan dengan permainan togel, tetapi setidaknya kita mesti lebih hati-hati dengan efek yang tidak kelihatan dari pemberlakuan suatu kebijakan.

 

C. Eksistensi  Lembaga Kemahasiswaan

Sesungguhnya lembaga ini sangatlah banyak berpengaruh terhadap berbagai penyikapan dan kebijakan yang ada dikampus ini. Berbagai permasalahan yang telah dikemukakan di atas sesungguhnya dapat di kurangi bahkan dieliminir kalau saja lembaga ini cukup kuat keberadaanya. Namun sayangnya telah lama lembaga ini tertidur dan terperangkap dalam mimipi-mimpi kegiatan yang megah, dengan dalih masih dalam periode transisi dan transisi lagi.

Secara struktur lembaga ini memang sangatlah terbuka untuk terjadinya konflik horisontal diantara kalangan aktifis itu sendiri, yang dalam kondisi seperti itu justru sesungguhnya banyak diharapkan secara-diam-diam oleh berbagai pihak. Pertama, kelemahan fungsi kontrol dan aturan pelaksanaan kegiatan memberikan kemudahan bagi oknum fungsionaris ataupun kepanitiaan yang mempunyai kelebihan untuk memanipulasi anggaran. Kedua adalah pihak  universitas atau pun fakultas, dengan lemahnya keberadaan LK tentunya akan memberikan sedikit kebebasan untuk bereksperimen dengan berbagai kebijakan spekulatif yang berimbas pada mahasiswa. Ketiga adalah pihak pihak yang secara oportunis memanfaatkan kelemahan tersebut untuk dapat menyisipkan kegiatan-kegiatan bersponsor ataupun juga ditunggangi oleh kepentingan politis diluar kampus.Tetapi nampaknya LK masih cukup tenang-tenang saja menyikapi kondisi ini, dan bahkan terlalu sering terjebak dalam konflik personal yang tentunya tidak membangun profesionalisme LK.

 

D. Kondisi Mahasiswa

Sebagai konsekuensi dari pemberlakuan sistem pendidikan Trimester mahasiswa menjadi lebih disibukkan dengan tugas-tugas perkuliahan daripada mengaktualisasikan dalam berbagai kegiatan yang membina kolektifitas dan tanggungjawab sosial. Hal ini tidaklah dapat disalahkan sebagai suatu pilihan yang harus diambil, karena memang keinginan untuk cepat lulus telah menjadi daya tarik tersendiri untuk memasuki kampus ini. Lagipula kebutuhan akan keilmuan telah sedikit tergeserkan dengan motif gengsi untuk meningkatkan status sosial dan sebagai syarat untuk mecari pekerjaan.

Sungguh suatu dilema yang sangat  bagi universitas ini manakala harus meluluskan mahasiswa dengan cepat, tanpa mengurangi mutu dan pertanggungjawaban denga slogan”Takut akan Tuhan……..” dan yel-yel Creartive Minority, juga partisipasinya dalam berbagai kegiatan pengaktualisasian diri tanpa menghambat pembuatan dan pelaksanaan kebijakan.

 

III. TANTANGAN KE DEPAN

Pemilihan rektor baru merupakan suatu upaya dalam rangka menjaga nilai-nilai demokrasi dan sebagai suatu langkah strategis dalam rangka menggairahkan iklim akademis  dalam persaingan dengan perguruan tinggi yang lain. Hendaklah rektor baru tersebut dapat benar-benar manjadi inspirasi dan skaligus motor dalam menjalankan sistem pendidikan ini. Ketakutan akan persaingan dengan perguruan tinggi lain hendaknya perlu kita waspadai dan kita tanggapi tanpa kepanikan berlebih, yang memakasa kita untuk melakukan terobosan-terobosan yang kelihatannya sangat baik dan ideal. Namun jika kita tidak waspada maka kita akan kehilangan jatidiri dan identitas kita sehingga kiita menjadi “Just to be another university” saja.

Selain kepiawaian dalam mengkomando setiap elemen pendukung di dalam kampus ini secra optimal, rektor yang baru juga mutlak dituntut untuk menjalin komunikasi dan kerjasama yang lebih intens dengan Lembaga Kemahasiswaan dalam rangka menyikapi perbagai tantangan jaman. Namun demikian LK tentunya juga harus berbenah diri agar mampu menjadi partner yang tangguh dan handal dalam rangaka menamajukan universitas ini. Permasalahan-permasalahan internal menyangkut peraturan operasional, pemahaman peran dan fungsi hendaknya menjadi perhatian utama sebelum melangkah lebih jauh.

Upaya untuk menjaring aspirasi dan kehendak mahasiswa haruslah dilakukan sedini mungkin sebagai suatu moment bersama untuk mengoptimalkan sistem pendidikan ini. LK mempunyai peran yang strategis dalam hal ini, tidak hanya dalam hal menjaring aspirasi saja tetapi juga untuk menaikkan posisi tawarnya dalam rangka menjaga hak-hak dan kewajiban mahasiswa.

 

IV. Penutup

Demikianlah beberapa hal yang dapat disampaikan berkenaan dengan rencana pemilihan rektor UKSW 2005-2009. Penulis sangatlah menyadari akan keterbatasan yang ada, oleh karena itu penulis dengan senang hati menerima kiritik, saran maupun masukan. Besar harapan tulisan ini dapat didiskusikan lebih lanjut, setidaknya untuk membantu kita dalam berpikair dan bertindak secara profesional.

 

Salatiga, 28 Nopember 2004

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on November 28, 2004, in Materi Pelatihan and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: