Singkat Cerita Babak Baru Lembaga Kemahasiswaan UKSW

Oleh : Slamet Haryono (412000011)[2]

 

Tanpa berbasa-basi, bahwasanya kawan-kawan seperjuangan dan pemerhati Lembaga Kemahasiswaan (LK), telah banyak mendapat berita duka seputar penyelenggaraan LK akhir-akhir ini. Tanpa bermaksud untuk menjelek-jelekan pihak-pihak yang terkait di dalamnya marilah kita pilahkan beberapa permasalahan pokok yang ada pada LK itu sendiri serta diluar LK yang keberadaannya turut mempengaruhi LK.

Masalah paling kritis yang dihadapi LK adalah terkait erat dengan kepercayaan mahasiswa akan kredibilitas lembaga ini. Bagaimana tidak ?, LK yang notabene ada untuk mahasiswa, untuk menjaga hak-hak dan kewajiban mahasiswa justru menjadi batu sandungan bagi mahasiswa dalam mengembangkan diri baik secara akademik maupun organisasi. Melihat kondisi tersebut tak heran jika mahasiswa memberikan cap miring pada para fungsionaris, yang hanya dianggap sebagai orang yang sok sibuk.

Ketidak percayaan mahasiswa tersebut besar disebabkan oleh karena reputasi yang diukir oleh kita di LK yang menuliskannya dengan miring. Ketidak konsistenan, ketidak tanggungjawaban, serta ketidak matangan  kita yang kita bungkus dengan jas almamater dan berteriak-teriak tentang mahasiswa, sembari berpijak diatas ubun-ubun mahasiswa itu sendiri. Di sisi lain kendaraan yang oleh kita sebut sebagai “Lembaga Kemahasiswaan” tak kunjung muat lagi mengangkut berbagai permasalahan dalam tubuh LK itu sendiri, lalu bagaimana dengan mahasiswa, bagaimana dengan salatiga dan bagaimana dengan negri ini ?

Nampaknya terlalu tinggi kita untuk membicarakan negri ini, tetapi setidaknya kita mesti berkaca dengan yang ada di luar kampus bahwasanya apa yang kita teriakkan sehari-hari di sini merupakan kalimat yang telah di dengungkan sejak tahunan yang lalu. Lalu apa yang bisa kita perbuat?

Boleh jadi tema yang diwajibkan mengenai “Pengkaderan” memang baik adanya, namun demikian tanpa bermaksud untuk keluar dari tema tersebut penulis mencoba mengkaitkannya dengan berbagai persoalan yang lain. Dengan demikian penulis memasukkanya dalam satu bagian agenda besar dalam mengembangkan LK, yang secara umum dapat dikelompokkan sebagai berikut :

 

1. Membangun kesadaran bersama tentang keberadaan kita saat ini serta berbagai kemungkinan yang akan datang.

Tak hayal jika seseorang meronta saat diobati manakala ia menganggap dirinya tidak merasa sakit. Perlu kita ketahui bersama bahwasanya LK yang kritis itu selalu memberikan kritik dan masukan bagi pihak lain. Yang jadi pertanyaan adalah pernahkah LK secara khusus dilakukan evaluasi mengenai eksistensi dan produktifitas lembaga tersebut ?. Secara subyektif penulis menilai bahwasanya LK selalu berorientasi pada kegiatan dan sibuk dengan berbagai prosedural birokratis. Adakah yang lebih mulia yang dapat kita kerjakan ?

2. Menghimpun sumberdaya, sumberdana untuk mewujudkan satu pemerintahan yang tangguh dan solid, tidak hanya dalam melaksanakan berbagai kegiatan namun juga dalam pengawasan terhadap kebijakan kampus.

Memang terlalu sulit untuk mengajak berbagi diantara kita para fungsionaris, yang berlindung dengan berbagai simbol-simbol kekusaan dan pelayanan terhadap fakultas masing-masing. Salahkah saya mengajak kawan semua untuk kita berbagi sumberdaaya manusia dan sumberdana yang ada, ataukah kita perlu mengajukan permohonan amandemen Alkitab ?

3. Membagun paradigma yang utuh.

Keberadaan LK akan selalu timpang dengan naik turunnya kualitas kepeminpinan fungsionaris. Belum lagi dengan berbagai intrik tentang pencalonan pemimpin-pemimpin baru. Tampaknya kita mesti berpikir jauh kedepan, tak usahlah kita memperdebatkan siapa yang akan menduduki kepemimpinan ini, sudah waktunya baagi kita untuk memberikan porsi lebih untuk setiap meraka yang mempunyai motivasi tinggi untuk mengembangkan diri di LK.

Sebagai penutup penulis menyampaikan penyesalan yang mendalam bahwasanya penulis tidak cukup terampil untuk menyajikan tulisan seperti halnya yang di harapkan oleh kawan-kawan satgas. Juga penulis mengucapkan terima kasih atas diberikannya kesempatan untuk menyampaikan pemikiran yang sempat mengkristal, terlebih lagi penulis kan berterima kasih jika ide dan gagaasan penulis dipakai dengan penuh kesadaran dan akal sehat. Akhir kata selamat berjuang kawan, ataukah kita menunggu orang lain untuk memeperjuangkan nasib kita ?

Salatiga, 29 September 2004

 

Penulis


[1] Disajikan dalam presentasi  pemilihan Ketua SMU Periode 2004-2005.

[2] Mahasiswa Fakultas Biologi UKSW.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on September 29, 2004, in Materi Pelatihan and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: