Bila Saya Jadi Menteri Lingkungan Hidup

Sekilas tentang negeri ini

Sejak masih SD kita sering mendengar cerita tentang kejayaan dan kemakmuran nusantara, karena begitu makmurnya sampai-sampai terjadi perebutan tanah semenjak dari jaman Majapahit hingga sekarang. Terakhir yang secara jelas-jelas adalah tentang perebutan pulau Ambalat.  Sejarah negeri ini memang tak pernah lepas dari pergolakan perebutan kekuasan atas wilayah, hal ini dilakukan baik dengan upaya damai -seperti di masa pendudukan Belanda, dengan dilaksanakannya Rekapitulasi Tuntang- sampai dengan kekerasan sekalipun, seperti  di masa pendudukan Jepang.

Semua bentuk pergolakan tersebut tidak lain adalah untuk mempertahankan kedaulatan masing-masing. Dimana syarat mendasar bagi kedaulatan suatu negara adalah adanya pemerintahan, rakyat dan wilayah. Begitu berartinya tanah air ini sehingga para pendahulu kita rela mati untuk membelanya.

Saat ini penjajahan dalam bentuk pengusaan wilayah secara langsug tidaklah nyata terlihat, hal ini disamarkan dengan berbagai kebijakan politis yang memungkinkan pihak penjajah untuk tetap dapat meraup keuntungan dari sumber daya alam suatu bangsa tanpa harus adanya suatu pemaksaan terhadap kepemilikan suatu wilayah. Hal ini dapat dibuktikan bahwa dengan semakin derasnya pinjaman dari Bank Dunia dan lembaga donor sejenisnya serta para pemodal asing yang mendapatkan untung berlipatganda dalam bisnisnnya di Indonesia. Di sisi lain kita hanya mendpatkan limbah, pencemaran dan kerusakan lingkungan. Sementara itu tingkat kesejahteraan penduduk kian  merosot. Suatu hal yang sangat ironis manaka Indonesia yang dikatakan telah merdeka puluhan tahun  masih terdapat warganya yang menderita busung lapar, bahkan peristiwa itupun terjadi tidak hanya di daerah yang terpencil tapi juga di dekat Ibukota negara, padahal di tersebut juga kita dapat menyaksikan industri-industri dan bangunan pencakar langit lainnya.

Keberadaan industri-industri tersebut juga mengiringi kerusakan lingkungan dan pemborosan sumber daya alam yang ada. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kehadiran teknologi-teknologi modern tersebut telah membawa peradapan manusia maju dengan pesat. Namun demikian untuk pemenuhan bahan baku industri ataupun bahan bakar, telah menghadirkan limbah dan pencemaran yang cukup signifikan, dan justru mayarakat menengah kebawah yang harus menanggung penderitaan. Memang kita harus mengakui bahwa tidak semua perusahan memberikan kontribusi terhadap pencemaran dan kerusakan lingkungan, beberapa diantaranya talah mempunyai teknolgi yang ramah lingkungan, namun jumlahnya terlampau kecil jika dibandingkan dengan industri lainya yang menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan.

Di sisi lain pembangunan yang dilaksanakan sampai sejauh ini tidaklah memperkuat sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bahkan pemerintah sendiri cenderung memberikan contoh yang tidak baik, korupsi, suap, koneksi sudah menjadi pemandangan keseharian di negeri ini. Kebiasaan tersebut sudah terlanjur membudaya meskipun rejim Soeharto telah berlalu.

Sampai di sini kita bertanya-tanya“ Dimanakah kekayaan tanah air ini yang terkenal laksana jamrud di katulistiwa itu, sehingga kesejahteraan hanya dimiliki oleh sebgaian kecil orang dinegri ini? ”

Terlalu banyak daftar permasalahan yang menghimpit negeri ini.

 

***

Dalam kondisi yang sedemikian rupa, saya kerap berpikir mengenai upaya utuk mengatasi itu semua. Hingga pada kesempatan ini saya berkesempatan untuk menuangkannya, terima kasih yang sangat banyak kepada Panasonic Gobel Baterry Indonesia yang telah menyelenggarakan kegiatan ini.

Bila saya jadi Menteri Lingkungan Hidup maka ada beberapa hal yang menjadi pusat perhatian saya, yaitu permasalahan yang menyangkut teknologi, sistem dan regulasi, budaya.

Penyempurnaan dan inovasi teknologi

Seperti telah disinggung di atas, kehadiran teknologi modern meningkatkan kemajuan peradaban manusia namun juga menimbulkan percepatan  kerusakan alam dan pencemaran serta pemborosan sumber daya alam. Satu-satunya cara untuk menanggulangi hal itu adalah dengan menyempurnakan teknologi yang telah ada dan melakukan inovasi, tidak hanya sekedar impor  teknologi dari negara maju.Penyempurnaan dan inovasi tersbut tentunya tetap harus dengan pertimbangan pada teknologi yang ramah lingkungan dan efisien.

Untuk mencapai tujuan tersebut kita harus giat melakukan serangkaian penelitian. Porsi yang besar dari anggaran dapat diberikan kepada para mahasiswa maupun peneliti untuk menghadirkan temuan-temuan baru. Mengingat bahwa teknologi yang kita impor tidak akan pernah membuat kita lebih maju dari negara tersebut, kita harus menciptakannya sendiri. Keberhasilan tersebut sangat tergantung pada komitmen pemerintah untuk mengatasai krisis di negeri ini.

Kita belajar pengalaman dari negara Jepang yang dengan komitmen yang sangat tinggi menyekolahkan mahasiswanya ke Eropa pada akhri 1800-an, dan buktinya kita lihat sekarang Jepang menjadi pesaing kuat teknologi eropa. Jika porsi dana untuk riset dari suatu anggaran negara terlalu kecil maka perkembangan teknologinya juga akan lambat dan peningkatan kesejahteraan masyarakat juga lambat. Akan menjadi lebih baik jika dana tersebut tidak dikorupsi.

Ketegasan dalam penyusunan dan penegakan produk kebijakan dan peraturan

Permasalahan yang kedua mengenai sistem dan regulasi. Kita mesti tegas dalam menghadapi tekanan para pemilik modal, yang memaksa kita  untuk membuat kebijakan yang menguntungkan mereka, tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan dan ketidaksejahteraan masyarakat.

Kebijakan dan peraturan yang dikeluarkan harus berpihak pada kesejahteraan masyarakat banyak dan tetep menjaga kelestaian lingkungan. Selain itu kita juga harus tegas dalam menindak setiap kasus pelanggaran terhadap kebijakan dan peraturan tersebut.  Seperti halnya peraturan tentang penebngan liar. Memang untuk menindak tegas bukanlah suatu hal yang mudah, mengingat bahwa uang suap masih banyak dipraktekan sebagai salah satu solusi terhadap permasalahan pelanggaran peraturan tentang lingkungan hidup.Hal ini akan dapat di antisipasi jika anggota dari badan atau lembaga terkait mempunyai kedibilitas yang tinggi. Hal ini berarti bahwa untuk penegakan hukum harus dimulai dari aparat penegak hukum dan pemerintah itu sendiri untuk bekerja secara disiplin dan bertanggungjawab.

Sekalipun kita memiki seperangkat peraturan perlindungan terhadap lingkungan hidup, namun jika kita tidak mampu bertindak tegas maka peraturan tersebut hanya akan menjadi setumpukan dokumen yang tidak brati apa-apa. Jangan mau di suap.

Pengelolaan lingkungan berbasis komunitas

Permasalahan ketiga mengenai budaya. Kebiasaan korupsi dan suap yang melanda negri ini mesti disingkirkan. Selain dengan seperangkat aturan dan penegakan hukum, kita sudah waktunya juga mengintroduksikan suatu budaya yang lebih luhur kepada masyarakat luas, termasuk juga pemerintah. Berbagai kegiatan dengan judul “konservasi-pun” tidak lepas dari serangkaian manipulasi dan mark up oleh oknum tertentu. Sehingga proyek-proyek yang diselenggarakan bukan lagi berorientasi pada proses dan hasil yang menciptakan keharmonisan lingkungan tapi lebih mengarah pada suatu cara untuk mengakali anggaran negara untuk kepentingan personal atau sekelompok orang saja. Dengan demikian proyek-proyek tersebut terkesan asal jalan saja tanpa menghasilkan apapun yang berarti, sungguh suatu pemborosan.

Pelaksanaan berbagai proyek konservasi lingkungan tersebut sudah waktunya untuk diserahkan kepada masyarakat. Pemerintah tidak perlu lagi susah susah membentuk tim atau badan yang khusus menangani hal itu. Ambil contoh permaslahan mengenai pengelolaan sampah. Pemerintah semestinya harus bertindak sebagai inisiator dan mediator dalam rangka transfer teknologi kepada masyarakat. Upaya pengelolaan sampah ataupun konservasi lingkungan diperkenalkan kepada masyarakat, sampai kepada teknologinya hingga akhirnya tiap-tiap komunitas masyarakat telah mampu untuk menangani permasalahan sampah ataupun konservaasi terhadap daerah tempat merteka tinggal.

Penangannan permasalahan lingkungan dengan pendekatan berbasis komutitas akan mempunyai efek yang lebih nyata dan langsung dirasakan masyarakat, sekaligus menanamkan kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup yang sehat. Anggaran dana dan teknologi diberikan kepada komunitas-komunitas terebut dengan pendampingan dari pemerintah.

Dengan demikian akan menanggulangi bocornya dana oleh pialang-pialang proyek, sekaligus membuat iklim dalam masyarakat yang sadar dan peduli akan lingkungan. Masyarakat menjadi mempunyai rasa memiliki yang besar terhadap lingkungannya, seperti halnya mereka yang gugur mewujudkan kemerdekaan bangsa ini. Sudah saatnya penaganan masalah lingkungan menjadi tanggungjawab bersama, berikut juga manfaat dan keuntungannya untuk kesejahteraan bersama, bukan sekelompok orang yang mengatasnamakan masyarakat.

Saat ini waktunya bagi kita untuk memperthankan tanah air ini bukan dari tangan penjajah, tapi dari tangan kita sendiri, manusia.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on July 25, 2004, in Artikel and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: