Sel Induk dan Toko Organ Tubuh Manusia : Suatu Tinjauan Teknis dan Etis

Disusun Oleh :

Slamet Haryono (412000011), Tri Hatmoko (412000030), Okie Wisnu Adityo (412000041),

Kunto Wibisono (4120000047)

 


ABSTRAK

Dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan manusia terutama penanganan terhadap penyakit menurun yang hampir bisa disebut permanen seperti diabetes melitus, telah banyak dilakukan penelitian. Salah satu kemajuan dari penelitian yang cukup membantu adalah dikembangkannya teknik dengan memanfaatkan  Embryonic Stem Cell. Teknik ini cukup membantu penanganan masalah tersebut selain dengan cara lama yaitu transplantasi.

Teknik transplantasi telah banyak dilakukan dan tidaklah terlalu rumit, seperti halnya transfusi darah, dan trasnplantasi ginjal. Namun demikian penggunaan Embryonic Stem Cell masih sedikit dilakukan. Prinsip dasar dari penggunaan Embryonic Stem Cell adalah dengan cara melakukan pembuahan ovum dengan sel sperma secra in vitro untuk kemudian pada hari ke lima atau pada fase blastula dilakukan isolasi terhadap inner cell dan ditumbuhkan pada medium dengan faktor tumbuh tertentu.  Diharapkan dari sel sel yang telah diisolasi tersebut dapat dihasilkan jaringan atau organ seperti yang dikehendaki.

Baik teknik transplantasi maupun dengan Embryonic Stem Cell sama-sama mempunyai konsekuensi yang juga harus dipertimbangkan, mengingat objek yang digunakan adalah organ hidup dan untuk diberikan pada manusia. Pertimbangan tersebut meliputi : kecocokan organ, biaya, jarak, serta status moral. Disamping itu juga harus dihadapkan kendala teknis di laboratorium seperti pada waktu isolasi inner cell pada blastosis.

Dalam kenyataannya permintaan akan organ ataupun jaringan tertentu terus meningkat, dan mau tidak mau penggunaan Embryonic Stem Cell ataupun transplantasi terus dilakukan, hanya saja yang perlu diperhatikan adalah perlunya adanya pengaturan ataupun pembatasan terhadap penggunaan jaringan ataupun organ hidup dari manusia serta perlunya dilihat kembali tujuan dari pengguaan barang-barang tersebut. Selain dari pada itu motif pelayanan terhadap masyarakat lebih dapat diterima daripada motif komersialisasi jaringan ataupun organ tubuh manusia.

Kata Kunci : Sel Induk, Bioetik, Toko Organ

I. Pendahuluan

Dewasa ini perhatian masyarakat dunia begitu serius terhadap permasalahan kesehatan manusia. Berbagai penelitian gencar dilakukan dalam rangka meningkatkan tingkat kesehatan manusia terutama dalam penanganan penyakit yang berkaitan dengan kelainan fungsi organ. Sebagai contoh seperti dikutip dari internet[1] bahwa kebutuhan akan organ donor di Amerika Serikat pada tahun 2002 mencapai 81.000, sedangkan organ transplan yang terpenuhi sekitar 23.000 organ dengan perkiraan 68 orang menerima organ dalam satu hari dan 17 orang meninggal selama dalam penantianya. Terdapat perbedaan yang sangat jauh antara permintaan organ dengan jumlah organ yang tersedia. Berbagai upayapun telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan penyediaan organ tersebut, namun belumlah mencukupi mengingat jumlah permintaan yang meningkat tiap tahunnya.

Dalam perkembangannya semenjak tahun 1959 tentang keberhasilan pembuahan in vitro[2] pada kelinci sampai saat ini telah mengalami banyak perkembangan yaitu keberhasilan dalam membiakkan jaringan manusia seperti sel islet pankreas, neuron, sel otot cardiac yang kesemuanya itu berasal dari Embryonic Stem Cell (ESC) [3]. Jaringan yang telah berhasil ditumbuhkan tersebut kemudian dapat ditransplantasikan pada manusia sebagai suatu solusi atas berbagai permasalahan kesehatan, terutama penyakit turunan secara genetis. Terapi ESC cukup memberikan harapan bagi para penderita penyakit turunan secara genetis yang relatif permanen seperti alzheimer, diabetes melitus, kerusakan permanen pada jaringan atau organ vital.

Keberhasilan dari teknologi tersebut tidak lepas dari pengembangan prinsip kultur sel. Terutama sel induk embrionik (ESC). Stem cell atau sel induk adalah sel yang mempunyai kemampuan untuk membelah diri  menjadi organisme utuh, dalam kondisi in vivo[4] dikarenakan sel tersebut masih memiliki kemampuan totipotensi[5]. Dalam medium pertumbuhan secara in vitro memerlukan kondisi yang tepat, atau diberikan perlakuan yang benar, yang kemudian dapat berdiferensiasi menjadi berbagai bentuk tipe sel yang menyusun suatu organisme. Stem cell mampu tumbuh menjadi sel yang matang dengan bentuk dan fungsi yang khas seperti sel hati, sel kulit, atau sel syaraf dan menjadi organisme normal (in vivo) atau dengan kata lain sel tersebut berkembang secrara pluripotensi[6]. Berdasarkan asalnya stem cell dapat berasal dari embrio yaitu dengan membuahkan sel sperma dan sel telur secara in vitro yang kemudian ditumbuhkan dalam medium. Pada hari yang ke lima atau pada fase blastosis[7] dilakukan isolasi bagian inner cell[8] dan ditumbuhkan pada medium  yang diperkaya dengan faktor tumbuh. Stem Cel yang diperoleh dengan cara demikian disebu sebagai embryonic stem cell. Stem sel juga dapat diperoleh dari sel tubuh pada organisme dewasa atau disebut sebgai adult stem cell.

Pada makalah ini, pembahasan dibatasi pada penjelasan teknik transplantasi baik jaringan maupun organ yang diperoleh dari pendonor maupun disintesis secara in vitro. Pembahasan selanjutnya merupakan kajian terhadap beberapa permasalahan sebagai konsekuensi dari penggunaan teknik tersebut dan berbagai pertimbangan etis.

II. LEBIH LANJUT TENTANG TEKNIK TRANSPLANTASI

Prinsip dasar dari transplantasi[9] adalah pemindahan jaringan atau organ hidup dari satu orang ke orang lain. Namun dalam perkembangannya transplantasi juga dapat dilakukan antar spesies. Dalam dunia medis, transplantasi yang sering dilakukan adalah transplantasi jaringan kornea ataupun transfusi darah. Hal itu dianggap sebagai suatu prosedur yang sudah lazim. Namun demikian untuk transplantasi pada organ yang lain menimbulkan berbagai permasalahan baik secara teknis maupun etis, misalnya transplantasi ginjal, hati dan jantung.

Teknik transplantasi tersebut sebenarnya tidaklah terlalu rumit, hanya saja dibutuhkan prosedur yang cukup panjang agar dapat dilakukan transplantasi. Mulai dari membuat surat perjanjian sampai dilakukan pemeriksaan medis untuk menentukan tingkat kesehatan dan kecocokan jaringan atau organ dari pendonor. Setelah dilakukan proses transplantasipun masih harus dilakukan pemeriksaan secara berkala untuk mengetahui perkembangan lebih lanjut.

Permasalahan teknis yang paling mendasar adalah berkenaan dengan pengadaan jaringan atau organ tersebut, mengingat bahwa jaringan atau organ yang dibutuhkan terlampau banyak dibandingkan dengan jaringan atau organ yang tersedia. Untuk mendapatkan organ yang diinginkan masyarakat cenderung mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan jumlah organ yang diinginkan dan kurangnya peran masyarakat yang berperan sebagai pendonor. Berdasarkan pada permasalahan di atas tercetus suatu gagasan untuk mendirikan “pabrik organ atau toko organ”. Pabrik organ atau toko organ merupakan suatu tempat/instansi yang membuat dan menyediakan organ, baik yang digunakan untuk penelitian maupun proses pengobatan yang memerlukan bagian anggota tubuh.

Atas dasar pemikiran itulah berbagai upaya untuk mengadakan jaringan atau organ secara in vitro banyak dilakukan. Pengadaan organ secara in vitro tersebut menggunakan embryonic stem cell. Embryonic stem cell dihasilkan dari pembuahan secara in vitro sel sperma dan sel telur yang kemudian pada hari ke lima atau pada fase blastosis yang kemudian dilakukan isolasi pada sel-sel bagian dalam. Sel-sel bagian dalam tersebut ditumbuhkan dalam suatu medium yang diperkaya dengan faktor tumbuh tertentu sehingga dapat menghasilkan jaringan ataupun organ seperti yang diharapkan. Sel-sel yang dihasilkan tersebut secara pluripoten dapat membentuk jaringan embrionik. Jaringan-jaringan embrionik yang diproduksi dapat digunakan untuk membuat organ. Organ-organ tersebut dapat digunakan untuk mengganti salah satu bagian tubuh kita yang tidak berfungsi dengan semestinya atau bahkan tidak berfungsi sama sekali. Untuk mendapatkan organ tersebut, kita tidak harus menunggu kematian seseorang atau sumbangan dari beberapa orang yang merelakan beberapa anggota tubuh untuk kepentingan suatu pihak.

III. BERBAGAI MASALAH TEKNIS DAN ETIS

Dalam praktek kesehariannya, transplantasi jaringan ataupun organ mendatangkan berbagai permasalahan teknis maupun etis. Permasalahan itu hendaknya dijadikan sbeagai suatu bahan evaluasi baik oleh  para ahli maupun masyarakat awam untuk dapat mengetahui dan memberikan suatu penilaian maupun keputusan yang tepat mengenai transplantasi.

Secara umum teknik transplantasi memberikan harapan yang besar bagi para penderita penyakit kronis yang berkenaan dengan kelainan fungsi jaringan atau organ. Akan tetapi sebagian penderita yang melakukan transplantasi hanya bertahan beberapa bulan atau beberapa tahun saja, terutama transplantasi organ yang sangat vital seperti jantung, hati dan ginjal. Sementara itu biaya yang diperlukan sangat banyak.

Berikut kami sajikan beberapa masalah teknis dan etis mengenai transplantasi jaringan atau organ :

A. Ketidakcocokan Organ antara Pendonor dan Resipien.

Baik organ yang berasal dari pendonor ataupun disintesis secara in vitro mempunyai peluang yang cukup besar terjadi ketidakcocokan. Hal ini disebabkan karena masing-masing tubuh pasien mempunyai karakteristik yang berlainan. Dalam penelitian ilmiah diupayakan terus-menerus materi yang tidak merusak darah atau substansi organis lain yang terkena alat atau organ artifisial (buatan) itu. Misalnya, material/substansi yang terdapat dalam organ artifisial itu harus dapat mencegah terjadinya penggumpalan darah dan tidak boleh merusak sel-sel darah merah. Organ–organ yang akan ditransplantasikan harus bebas dari kemungkinan yang merugikan resipien seperti adanya interferensi dalam organ transplantasi terhadap fungsi-fungsi organ normal yang lain. Kemudian, ketidakcocokan pasien dengan organ baru yang ada yang mengakibatkan tubuh kehilangan kemampuan dalam perlindungan terhadap infeksi. Penolakan terhadap organ yang baru ditanamkan tersebut umumnya disebabkan oleh adanya kepekaan sistem kekebalan. Untuk mengatasi masalah ini telah ditemukan obat penurun kepekaan yang disebut cyclosporin. Penolakan tersebut juga akan relatif kecil jika organ transplan tersebut berasal dari sel tubuhnya sendiri (in vitro).

B. Isolasi Inner Cell Dan Penumbuhan Pasca Blastosis (secara in vitro)

Pada tahap ini para pakar mengalami banyak kesulitan untuk dapatmengisolasi inner cell secara lengkap tanpa merusak kemampuan sel tersebut untuk tumbuh. Selanjutnya adalah sulitnya pengaturan untuk menghasilkan kultur jaringan atau organ seperti yang diharapkan meskipun telah ditambahkan faktor tumbuh tertentu. Hal ini tentunya akan banyak dibutuhkan stem cell embryonic untuk menjadi satu organ saja yang diharapkan. Pada tahap ini juga mendatangkan satu permasalahan etis yaitu dihilangkannya kemampuan embrio untuk tumbuh menjadi individu baru yang utuh. Dengan kata lain sel tersebut telah dieuthanasia[10], karena sel tersebut kehilangan kemampunanya untuk tumbuh menjadi organisme utuh, sehingga cukup beralasan untuk dilakukan berbagai peerlakuan laboratorium termasuk dibinasakan.

C. Terjadinya Pemborosan  Sel Sperma Dan Sel Telur (secara in vitro)

Untuk memperoleh jaringan atau organ yang ditumbuhkan secara in vitro dibutuhkan banyak sel sperma dan sel telur, mengingat tidak semua stem cell embryonic tersebut dapat menghasilkan jaringan atau organ seperti yang diharapkan. Bisa dibayangkan untuk menghasilkan sebuah jaringan atau organ saja harus rela mengorbankan puluhan embrio mati secara sia-sia. Selama proses ini, sel sperma dan sel telur wanita yang digunakan seakan akan tidak memiliki arti selain hanya sebagai materi yang digunakan untuk penelitian. Selain masalah yang timbul akibat eksploitasi sel sperma dan sel telur tersebut, terdapat beberapa masalah lain yang masih berkaitan dengan penggunaan sel telur tersebut. Sel telur wanita yang telah dibuahi maupun yang belum dibuahi merupakan calon individu baru. Dapat dikatakan demikian karena individu baru didapatkan dari sel telur yang telah dibuahi. Berdasarkan hal tersebut, sel telur dipandang sebagai cikal bakal adanya kehidupan baru atau individu baru. Sedangkan pada riset mengenai sel induk (ESC), sel telur hanya dipandang sebagai barang atau sarana yang dieksploitasi untuk tujuan mendapatkan sel induk sebagai media riset atau penelitian.

D. Status Moral Embrio (secara in vitro)

Sel induk didapatkan dari proses fertilisasi in vitro yang membutuhkan pengambilan dan pembiakan sejumlah sel telur. Selama proses ini berlangsung, maka akan tampak sel-sel telur yang telah dibuahi. Sel-sel telur atau embrio tersebut baik yang akan digunakan untuk penelitian maupun yang terbuang sia-sia sebenarnya mempunyai hak/peluang yang sama untuk dapat berkembang menjadi individu baru. Bagaimanapun juga embrio ini, meskipun tidak menjadi suatu individu, memiliki hak hidup yang sama seperti yang kita miliki. Namun demikian dalam prosedur laboratorium kita seolah membatasi hak dan kita menjadi hakim atas embrio tersebut.

E. Awal Mula Kehidupan (secara in vitro)

Terdapat perbedaan pendapat yang sangat pelik mengenai awal mula sebuah kehidupan. Kalangan pertama menganggap bahwa kehidupan itu sudah ada semenjak terjadi pembuahan. Sementara itu pihak lain mengatakan bahwa pada stem sel embrionik belum merupakan suatu kehidupan mengingat bahwa pada stem sel embrionik tidak dapat tumbuh menjadi individu yang utuh, tetapi hanya merupakan jaringan atau organ tertentu.  Sehingga berbagai perlakuan tertentu terhadap stem cell embryonic masih sangat manusiawi. Perdebatan inipun masih terus dilakukan tetapi nyatanya praktek menggunakan embrio justru malah bertambah.

F. Ironisme Alasan Transplantasi Secara In Vitro

Terdapat suatu pertimbangan yang mendasar mengenai alasan dilakukannya kultur jaringan atu organ secarin vitro yaitu sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan manusia dan sebagai solusi atas berbagai permasalahan berkenaan dengan kelainan fungsi organ tertentu. Namun demikian untuk dapat menghasilkan suatu organ harus rela mengorbankan puluhan embrio untuk mati sia-sia.

G. Perdebatan Tentang Kapan Tepatnya Seseorang Mati

Sampai sejauh ini kalangan medis menggunakan ukuran kematian otak sebagai dasar untuk menentukan bahwa orang tersebut telah meninggal dunia. Sedangkan para kalangan religius masih bersikeras bahwa kematian status kematian seseorang tidak hanya ditentukan melalui kematian otak, akan tetapi kematian sesorang lebih ditentukan sebagai suatu peristiwa terlepasnya jiwa dari tubuh tersebut. Namun penentuan lepasnya jiwa atau raga tidak dapat ditentukan secara empirik. Dalam hal ini manakala kematian seseorang hanya ditentukan dari kematian otak maka seolah terkesan bahwa manusia menjadi hakim atas hidup dan matinya seseorang.

H. Masalah Jarak Dan Biaya

Permasalahan jarak dan biaya merupakan permasalahan yang sangat teknis. Mengingat ketersediaan organ transplan boleh jadi jauh dari tempat resipien berada sementara itu dituntut kesegaran dari transplan. Selain daripada itu biaya yang digunakan untuk proses transplantasi sangat mahal. Kalaupun transplantasi dapat dilakukan masih juga beresiko terjadinya ketidak cocokan  serta kemampuannya untuk dapat memepertahankan hidup tidaklah terlalu lama. Sehingga dapat pula dilakukan perenungan ulang sebelum dilakukan transplantasi termasuk untung dan ruginya.

I. Organ tak Berpasangan

Transplantasi akan cenderung tak bermasalah (secara etis) jika transplan yang digunakan merupakan jaringan sederhana ataupun organ yang berpasangan. Namun demikian pada organ yang tidak berpasangan seperti hati, jantung dan pankreas akan menimbulkan permasalahan baru yaitu si pendonor harus dalam keadaan meninggal dunia. Mengingat bahwa organ tersebut sangan vital keberadaanya.

J. Komersialisasi Jaringan Atau Organ

Terdapat suatu kekhawatiran besar oleh para kaum religius bahwa pabrik atau toko organ didirikan hanya untuk kepentingan bisnis semata. Dengan berkedok membantu kepentingan membantu kepentingan kesehatan.

IV. KESIMPULAN

Sebagai manusia yang berakal budi dan juga sebagai makhluk sosial sudah menjadi kewajiban untuk saling membantu satu dengan yang lainya mengingat bahwa hakikat dari makna kehidupan tersebut menjadi berarti jika ada orang lain. Wujud nyata dari kewajiban tersebut adalah kepedulian untuk memberikan sumbangan jaringan ataupun organ tubuh kita.   Yang paling sederhana adalah dengan mendonorkan darah kita.

Hendaknya para pendonor telah sepakat dengan suatu perjanjian untuk memberikan organ tubuhnya kepada orang lain meskipun penentuan kematiannya berdasarkan kematian otak. Hal ini dimaknai bukannya sebagai suatu tindakkan melangkahi wewenang Tuhan tetapi pemberian organ tersebut dilakukkan sebagai upaya untuk mensejahterakan kehidupan orang lain. Toh kalaupun kita meninggal dengan tubuh yang utuhpun akan membusuk dan tidak berguna, bukankah lebih baik itu dapat digunakan orang lain.

Berbagai upaya untuk mengadakan organ secara in vitro hendaklah dimaknai sebagai suatu upaya untuk membantu penderitaan orang lain, bukannya sebagai suatu motif bisnis belaka. Lebih jauh diharapkan penggunaan organ buatan tersebut bersifat pemberian ataupun jika memang harus membayar tentunya dengan harga yang sekecil mungkin. Di sisi lain penggunaan sel sperma dan sel telur juga harus dibatasi untuk keperluan medis yang bersifat unuk menolong penderitaan orang lain.

V. REFERENSI

Djati, M. S. , 2003. Diskursus Teknologi Embryonic Cells dan Kloning Dari Dimensi Bioetika dan Religiositas. Jurnal Universitas Paramadina.Vol 3 No.1: 102-123.

Dole,V.P. , 1969.  Ethical Aspect andsociological implication of organ transplantation as a therapeutic procedure. Proc Nath Acd Sci USA : Vol 63 .

Gage, F.H. dan I.M.Verma, 2003. Stem cells at the dawn of the 21st century. Proc Nath Acd Sci USA : Vol 100: 11817-11818.

Gilbert, D.M. 2004. The Future of Human embryonicStem cell research : addresing ethical ethical conflict with responsible scientificreseach. Med Sci Monit: 10(5):RA99-103.

Meyer, J.R. 2000. Human Embryonic Stem Cells and Respect for Life. Journal of Medical of Ethics. Vol 26:166-170.

Whestine, L. , K. Bowman, L. Hawryluck. 2002. Pro/Con Debate: Is Nonheart-Beating Organ Donation Ethically Acceptable ?. Crutical care:6: 192-195.

Yannas,  I.V. , 2000. Synthesis of Organ : In vitro or In vivo. Proc Nath Acd Sci USA : Vol 97: 9354- 9356.


[1] Informasi diperoleh dari http://www.organdonor.gov/ bestpractice.tm#methodology.

 

[2] Ditumbuhkan dalam kondisi laboratorium yang khusus, bukan didalam tubuh suatu organisme.

[3] Merupakan sel yang mampu bertumbuh dan menjadi berbagai bentuk jaringan atau organ dalam kondisi khusus.

[4] Berada dalam tubuh organisme.

[5] Kemampuan untuk tumbuh menjadi organisme secara utuh.

[6] Kemampuan untuk tumbuh dan berdeferensiasi menjadi bergbagai bentuk jaringan atau organ yang khas namun tak dapat menjadi organisme yang utuh.

[7] Tahapan awal dalam pembelahan sel sebelum terjadai diferensiasi. Pada vertebrata jumlahnya berkisar antara 150-200 sel.

[8] Bagian tengah sel atau lapusan endoderm.

[9] Pencangkokan organ.

[10] Dimatikan dengan tanpa rasa sakit.

About Slamet Haryono

Hak cipta dilindungi oleh YANG MAHA PENCIPTA. Silahkan dibaca, mengutip sebagian atau keseluruhan dari setiap tulisan dalam blog ini untuk tujuan non komersial wajib menyertakan sumber dan nama penulis secara lengkap, serta digunakan dengan penuh tanggungjawab. Sedangkan untuk tujuan komersial silahkan hubungi saya melalui slamethdotkom@yahoo.com

Posted on July 25, 2003, in Science and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: