Blog Archives

Belajar Sejarah Minor di Lasem

Setelah membaca tulisan Satria Anandita dan tanggapan teman-teman yang cukup antusias. Aku tak sanggup menahan diri untuk tidak menuliskan hal ini. Apa yang aku tuliskan tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaanku atau lembaga tempat aku bekerja. Berawal dari keusilanku dan rasa ingin tahuku, aku mulai mengobrak-abrik beberapa buku yang teronggok di lemari homebase, tempat kami tinggal sekaligus kantor.

Aku mendapati satu buku fotokopian yang sebenarnya dahulu buku tersebut hanya boleh dimiliki secara terbatas oleh masyarakat budhis di Lasem dan sekitarnya, judulnya Babad Badrasanti. Aku baca habis buku itu dalam beberapa hari saja, meski sedikit kesusahan karena menggunakan bahasa jawa, aku masih bisa memahami sebagian besar buku itu. Sejenak aku bersyukur dibesarkan di Lingkungan wong gekaje, sempat belajar membaca kitab yang bahasa jawa, dan juga menggunakan bahasa jawa dalam setiap pertemuannya.

Setelah sekian lama aku mempelajari buku itu, aku sadar kalau yang diceritakan di buku itu bukanlah cerita yang umumnya dipelajari di sekolah dan dianggap paling benar (sejarah mayor), tapi cerita versi lain yang mungkin dianggap salah atau menyimpang (sejarah minor). Istilah sejarah mayor dan minor mungkin akan diartikan lain oleh orang lain. Tapi biarkan saja, aku sengaja menggunakan istilah itu untuk memudahkan pemahaman saja, tidak perlu diperdebatkan, karena yang aku tuliskan mungkin tidak benar. Aku juga tidak perlu pembenaran, setidaknya bisa menghadirkan alternatif lain. Satria Anandita pernah bilang padaku, semakin banyak alternatif, semakin mendekati kebenaran.

Kakawin Babad Badrasanti, sebagai salah satu sumber sejarah minor

Kakawin Babad Badrasanti (BB) disusun oleh mPu Santibadra (1432-1527), yang kemudian pada tahun 1580 Kakawin BB digubah menjadi geguritan oleh menjadi Geguritan oleh Pangeran Tejakusma I atas permintaan Sultan Pajang. Selanjutnya pada tahun 1681 BB digubah menjadi tembang macapat oleh oleh Pangeran Tejakusma IV. Baru pada tahun 1863 Ki Kamzah, anak dari cicit Tejakusuma IV BB digubah kembali menjadi kidung dengan ditambah pembukaan dengan Carita Lasem (CL). Dikemudian hari salinan dari gubahan Ki Kamzah inilah yang banyak beredar, termasuk yang aku baca.

BB sendiri berisi tentang nasehat dan pandangan mengenai bagaimana manusia hidup bersama, mulai dari perkawinan, persahabatan, alam raya sampai adat istiadat. Ini berupa pandangan, yang pada waktu itu secara subyektif oleh penyusunnya yang kebetulan seorang budhis dianggap luhur. Tentunya kita tidak boleh menghakimi atau membandingkan dengan konteks kekinian, apalagi menggunakan kacamata agama yang lain. Untuk itu saya tidak akan panjang lebar membahas BB, kita akan lebih fokus pada Carita Lasem yang terdapat dalam Kakawin Babad Badrasanti.


Sejarah Minor itu terdapat dalam Carita Lasem

Carita Lasem berisi tentang kejadian di seputar (Kerajaan) Lasem dalam kurun waktu 1351 sampai 1863. Mulai dari Dewi Indu atau Bhre Lasem I (-1382) sampai dengan Ki Kamzah. Bhre Lasem adalah anak dari Tribhuwana Tunggadewi dan Kertawardhana, adik dari Hayam Wuruk, kakak dari Bhre Pajang. Bhre Lasem I menikah dengan Rajasawardana atau Bhre Matahun (-1383). Jadi Waktu itu Lasem adalah kerajaan dibawah Majapahit, bukan hanya sekedar kecamatan seperti sekarang ini.

Bhre Lasem I menurunkan Pangeran Badrawardana, Pangeran Badrawardana menurunkan Pangeran Wijayabadra, Pangeran Wijayabadra menurunkan Pangeran Badranala. Dalam Negara Kretagama dan Pararaton disinggung mengenai Bhre Lasem II (sang Alemu), boleh jadi dia adalah anak dari Bhre Lasem I, oleh karena dia diperistri oleh Wirabhumi (Anak Hayam Wuruk dari istri selir) maka Bhre Lasem II tidak dimasukkan ke dalam silsilah keturunan Bhre Lasem I. Penulis CL, Ki Kamzah hanya berusaha memperoleh legalitas keturunan untuk mPu Santibadra sebagai penulis BB. Untuk itu perlu dimaklumi, mengingat jeda penulisan CL oleh Ki Kamzah berselang setelah 512 tahun. Saya menduga CL tidak hanya ditulis oleh ki Kamzah, mengingat kurun waktu yang begitu panjang dan terdapat 3 sistem penanggalan yang digunakan (Syaka, Jawa,Masehi). Beberapa potongan cerita baik lisan ataupun tulisan tersebut kemudian dirangkum dan disatukan oleh Ki Kamzah menjadi pendahuluan dalam BB.

Pangeran Badranala Kawin dengan Putri Cempa Namanya Bi Nang Ti (1410-1467). Bi Nang Ti adalah anak dari Bi Nang Un dan Na Li Ni, Bi Nang Un adalah nahkoda dari kapal Cheng Ho yang memutuskan untuk menetap di Lasem (Ekspedisi Cheng Ho Ke dua 1413). Putri Bi Nang Ti inilah yang berjasa mengajarkan teknik pembatikan. Perkawinan antara pangeran Badranala dan Bi Nang Ti melahirkan Pangeran Wirabajra dan pangeran Santibadra.

Atas pesan dari Pangeran Badranala sebelum meninggal (1568), maka Pangeran Wirabajra diminta dengan rendah hati untuk memeluk agama Rasul (Islam), sedangkan pangeran Santibadra tetap melanjutkan ajaran Syiwa Budha. Abu jenazah pangeran Badranala dan Bi Nang Ti sama-sama dikebumikan di kompleks Pasujudan Sunan Bonang. Saya menduga Pangeran Badranala adalah Budhis, terlebih Putri Bi Nang Ti yang merupakan pamomong agama Budha Sakyamuni di Lasem waktu itu. Namun jika anda mengunjungi makamnya sekarang tidak ada kesan sentuhan Budhis jangan kaget, maklum makamnya terletak dalam satu kompleks pasujudan sunan Bonang.

Anak dari Pangeran Wirabajra adalah Pangeran Wiranegara yang sudah memeluk agama Rasul sejak kecil, berguru pada Sunan Ampel. Di Kemudian hari dia dinikahkan dengan putri Sunan Ampel, Nyi Ageng Malokhah kakak dari Sunan Bonang. Perkawinan dari Wiranegara dan Malokhah melahirkan Putri Solikhah yang kemudian diperistri oleh Raden Patah atau Arya Jin Bun, raja Demak pertama.

Pangeran Santibadra Beristri Putri Sukati dan punya anak 10. Putri Sukati adalah anak dari Bupati Tuban waktu itu. Anaknya yang Sulung adalah pangeran Santipuspa Kelahiran 1451 dan yang bungsu adalah Pangeran Santikusuma kelahiran tahun 1468, di kemudian hari dia disebut juga sebagai Raden Mas Said Santikusuma atau Sunan Kalijaga. Menurut CL, Pangeran Santikusuma masih berumur 1 tahun ketika ditinggal Bapaknya mengabdi ke Majapahit. Sejak kecil sampai umur 19 tahun, Pangeran Santikusuma belajar ilmu ke-Budha-an dan kebudayaan langsung dari kakaknya, Pangeran Santipuspa. Baru pada tahun 1487 Pangeran Santikusuma (berumur 19 tahun) belajar secara intensif agama keRasulan di tempat Kakeknya di Tuban. Di Tuban Pangeran Santikusuma banyak berbagi ilmu dengan Sunan Bonang yang berumur 14 tahun lebih tua. Waktu itu Sunan Bonang sudah diwisuda oleh Sunan Ampel menjadi wali sejak tiga tahun sebelumnya yaitu tahun 1484. Namun demikian tidak menutup kemungkinan perkenalan dengan Sunan Bonang sudah terjadi sejak tahun 1480, karena pada waktu itu Sunan Bonang diminta Nyi Ageng Malokhah untuk menempati Kadipaten Binangun.

Ketika Pangeran Santibadra mengabdi ke Majapahit (1469), dia didampingi oleh Eyang Kakek Pandhita Na Wang I (adik dari Na Li Ni, istri Bi Nang Un). Selain Na Wang I, Pangeran Santibadra juga dipanakawani oleh Gin Hong, Kecruk, dan Palon. Seperti kebetulan, nama itu mirip dengan panakawan dalam cerita pewayangan yaitu Gareng, Petruk dan Bagong. Dan kebetulan juga dalam Serat Darmogandul yang di tulis 1478 juga disebutkan mengenai ramalan Sabdopalon Noyo Gengong. Seperti kebetulan saja, namanya mirip-mirip. Terlepas benar atau salah, ketiga panakawan itu dimakamkan bersama dengan makam Pangeran Santipuspa di Desa Gedongmulyo.

Jika benar ketiga panakawan itu adalah Gareng, Petruk dan Bagong lalu siapakah Semar?

Saya menduga Semar adalah Eyang Pandhita Na Wang I. Dia sebagai penasehat spiritual Pangeran Santibadra dan Juga Kertabhumi, sepertinya cocok dengan karakter Semar yang selalu mengikuti kesatria dan banyak memberi nasehat. Setelah Majapahit diserang Demak, Na Wang I dan Kertabhumi (menyamar menjadi biksu) melarikan diri ke arah timur, mendarat di Pulau Serangan Bali. Gareng, Petruk dan Bagong kembali ke Lasem bersama-sama dengan Pangeran Santibadra. Namun baru sampai di daerah Rakitan, sebelah utara Lasem Pangeran Santibadra berhenti dan menyusun BB. Gin Hong, Kecruk, dan Palon melanjutkan perjalanan ke Lasem dan mengabdi pada Pangeran Santipuspo.

Kepulangan Gin Hong, Kecruk, dan Palon ke Lasem adalah 8 tahun sebelum Pangeran santikusuma belajar agama kaRasulan ke Tuban. Dengan demikian Pangeran Santikusuma punya cukup waktu untuk belajar dan bercengkrama dengan ketiga panakawan itu, namun tentang Eyang Pandhita Na Wang I dia hanya mendengar ceritanya saja. Jika memang benar Sunan Kalijaga adalah Pangeran Santikusuma, dan dia banyak menggunakan unsur budaya dalam melakukan dakwah, maka tidak menutup kemungkinan dia yang mempermak cerita gara-gara dengan menghadirkan tokoh Gareng, Petruk dan Bagong yang karakternya terinpirasi dari pengabdian Gin Hong, Kecruk, dan Palon kepada Bapak dan kakaknya. Penghormatan yang tinggi kepada Eyang Pandhita Na Wang I disisipkan dalam pewayangan sebagai Semar. Informasi yang terbatas (samar-samar) dan mitos semar yang begitu melegenda di tanah Jawa menjadi suatu alasan yang kuat untuk menggunakan karakter Eyang Pandhita Na Wang I dengan nama Semar.

Setelah saya bandingkan dengan buku sejarah lainnya, seperti Tafsir Sejarah Negara Kretagama, Runtuhnya Kerajaan Hindhu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara keduanya karya Slamet Muljana. Babad Tuban yang ditulis Tan Khoen Swie (1936) atau Serat Darmogandul, nampaknya ada beberapa yang hal yang mesti dikoreksi. Terlepas buku yang mana mengkoreksi yang mana yang pasti butuh penelaahan lebih mendalam. Anda tertarik? mari sama-sama belajar sejarah untuk membuat sejarah, atau orang lain yang akan menetukan sejarah anda.

***

Lebih lanjut baca Jaga Lali

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,071 other followers