Hidup Sehat
Senja Menuju Yogyakarta
ujan yang mengguyur sepanjang jalan Salatiga-Jatinom, tidak mengurungkan niat kami menuju ke Yogyakarta, untuk menemui seorang teman yang baru kami kenal, Martijn Eickhoff. Satria Anandita masih terus berkonsentrasi mengemudikan mobil, barangkali mencari titik temu antara upaya untuk tiba di Yogyakarta tepat waktu dengan menjaga kesetabilan mobil yang sementara melaju di atas aspal yang licin. Saya duduk disebelah Satria, melemparkan lamunan dengan pengantar lagu dari Jason Mraz, untuk mengalihkan rasa laparku karena seharian belum sempat makan. Sebenarnya sudah beli nasi bungkus, namun karena berusaha untuk tepat janji, lebih baik saya simpan dulu. Di belakang, Susi Erawati masih terus berkoordinasi dengan rekan bisnisnya, melalui telepon gengamnya.
Setelah melewati Boyolali, memasuki daerah Jatinom jalan aspalnya rusak parah. Kubangan air disana-sini dan sangat membahayakan bagi pengendara sepeda motor. Entah apa yang ada di benak pemerintah sampai jalan raya dibiarkan terbengkalai seperti ini, giliran studi banding ke luar negeri saja para wakil rakyat beradu cepat. Bersyukur selepas Jatinom memasuki Klaten, hujan sudah reda bahkan di Yogyakarta kering sama sekali, tidak hujan.
Kami langsung menjemput Martijn di tempat penginapannya, dan langsung mengajaknya makan bersama-sama di sebuah kafe di Ambarukmo Plasa. Bukan tempat favorit, tapi tak apalah karena perut sudah lapar yang pinginnya segera makan, namun sayang baru saja kami selesai makan, sudah mau jam tutup. Kami kemudian meluncur ke House of Raminten, semacam kafe dengan gaya sangat Jawa, mulai dari penataan tempat, aroma terapi dan juga cara berpakaian peramusajinya. Tempat ini sangat spesial buat saya, beberapa waktu yang lalu (Oktober 2009), saya juga sempat menghabiskan malam di tempat ini bersama Jimmy M. Immanuel, Dimas Arisandi, Anggrie Ratna, Frederika Lalamentik, James A. L. Filemon dan Satria Anandita. Sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang mengunjungi Yogyakarta untuk singgah di tempat ini, apalagi mereka buka 24 jam. Sayangnya ketika saya menuju ke kamar mandi, masih dalam satu bangunan tersebut terdapat beberapa ekor kuda, di dalam kandangnya. Saya hanya bertanya-tanya apa maksud mereka menempatkan kuda disitu? Bagi saya rasanya kurang enak saja.
Sembari makan banyak hal yang kami bicarakan terkait penelitian Matijn, bertukar pikiran tentang gaya hidup orang Amsterdam dan Indonesia. Sampai ketika Yodie Hardian menyusul kami, dia langsung berjabat tangan khas anak muda yang energik, setelah itu dia meletakkan rokokya dan menawarkan kepada Saya dan Satria. Meskipun waktu itu tidak terlalu pingin merokok tapi tidak apa-apa mencoba rokok merek baru “enak namun murah” kata Yodie. Matijn dan Susi mengomentari bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan. Tetap sambil merokok ditemani seruputan kopi purwoceng saya merenung sejenak. Saya kira itu memang benar, rokok tidak baik untuk kesehatan. Tapi mengapa saya merokok?
Penyakit Pikiran
Bukan maksud membela diri, saya kemudian menanggapi komentar Martijn dan Susi. Ada banyak hal yang jauh lebih berbahaya yang dilakukan manusia selain daripada merokok, yaitu penyakit pikiran. Penyakit tersebut adalah penyesalan, kekecewaan, rasa takut dan khawatir. Penyesalan dan kekecewaan sifatnya adalah untuk peristiwa yang telah berlalu. Penyesalan disebabkan karena kita tidak melakukan sesuatu dengan sebagaimana mestinya, atau justru telah melakukan sesuatu dengan tidak sebagaimana mestinya.
Kekecewaan tidak terlalu jauh berbeda, hanya saja kekecewaan terjadi karena kenyataan yang ada tidak sesuai yang di harapkan. Bedanya kekecewan bisa bersifat aktif namun juga bersifat pasif, sedangkan penyesalan sifatnya aktif. Bersifat aktif artinya dilakukan oleh diri sendiri, sementara pasif dilakukan oleh orang lain. Misalnya seorang perempuan berharap agar sang pacar mengucapkan selamat ulang tahun yang pertama kali, namun pada kenyataannya sang pacar baru mengucapkan di pagi harinya. Kenyataan ini dapat membuat perempuan tersebut kecewa karena kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sementara itu bisa jadi sang pacar meresa menyesal, karena dia tidak melakukan sebagaimana mestinya, dalam hal ini menjadi orang yang mengucapkan selamat ulang tahun yang pertama kali untuk pacarnya. Bisa jadi si laki-laki tidak menyesal, namun kekecewaan si perempuan itu ditunjukkannya kepada laki-laki mungkin dengan merajuk. Pada tahap ini jika laki-laki cukup peka atau cukup punya informasi mengenai apa yang diharapkan perempuan itu, dia bisa jadi masuk pada fase penyesalan, ketika menyadari bahwa kesempatan itu telah berlalu.
Kekecewaan dan penyesalan seperti halnya penjara, yang tidak akan dengan mudahnya melepaskan kita untuk berkembang dan menikmati hidup ini. Kurangnya kesadaran, kurangnya informasi dan kekurangkritisan biasanya menjadi penyebab kita tidak bisa keluar dari penjara ini, terlebih lagi mereka yang menggunakan doktrin agama secara kaku. Kecenderungan doktrin agama hanya akan menakut-nakuti manusia dengan rasa bersalahnya, sehingga yang ada adalah penyesalan tanpa menawarkan solusinya. Solusi paling banter adalah berserah, semoga hal ini berhasil namun perlu dicari alternatif solusi lainnya.
Kalaupun manusia sudah bisa keluar dari penjara penyesalan dan kekecewaan, apakah ada jaminan jika yang bersangkutan bisa menikmati hidup dan berkembang, baik secara kepribadian atau spiritualitasnya? Saya kira belum tentu, masih ada dua penyakit pikiran yang siap mengambil kehidupan manusia, penyakit itu adalah rasa takut dan khawatir. Rasa takut disebabkan karena kita punya kenangan buruk ataupun informasi yang kurang tepat terkait apa yang telah terjadi, namun demikian bisa jadi disebabkan karena ketiadaan sama sekali informasi atau pengalaman, akan sesuatu yang akan terjadi. Semantara itu kekhawatiran terjadi karena kreatifitas otak kita yang berlebih memikirkan berbagai kemungkinan yang sebenarnya belum tentu terjadi. Kedua penyakit ini menjadi semacam tembok penghalang yang begitu kuat sehingga tidak memungkinkan manusia untuk menikmati hidup secara sehat dan berkembang baik secara kepribadian maupun spiritual.
Beban Hidup
Di belakang terdapat penjara penyesalan dan kekecewaan sedangkan di depan terdapat tembok ketakutan dan kekhawatiran yang merintang, nyaris hal ini manusia menjadi gelap mata, tidak berpengharapan, dan dangkal dalam berpikir. Semua itu manusia hanya bisa menyebut sebagai beban hidup, ketidakmampuan manusia mengatasi beban hidup tersebut terkadang justru menjadi motif bagi orang-orang tertentu untuk menjual ide tentang surga. Sebagai imbalannya bagi orang-orang yang idenya laku keras atau dengan kata lain banyak yang percaya maka akan diberi imbalan surga. Menjadi aneh ketika menjual ide tentang surga itu sudah dianggap wajar, kemudian banyak para pengikutnya yang bertindak lebih agresif terhadap orang lain. Dengan demikian saya memepertanyakan kembali gagasan mengenai surga yang ditawarkan itu?
Perenunganku yang panjang tersebut tentunya tidak saya sampaikan semua kepada Martijn, Susi, Satria dan Yodie. Saya baru sempat mendeskripsikan ulang perenunganku waktu itu di kemudian hari. Waktu itu saya hanya menyampaikan bahwa untuk dapat menikmati hidup, berkembang secara kepribadian dan spiritual adalah dengan hidup sehat. Melalui hidup sehat merupakan satu-satunya pengobatan yang paling canggih sekaligus paling murah. Hidup sehat tersebut bukan hanya masalah pola konsumsi makanan saja tetapi juga kesehatan pikiran. Mereka yang biasa makan makanan bergizi, tidak merokok, tidak minum minuman keras kalau membiarkan pikirannya sakit, maka kehidupannya akan sangat menderita. Ketika orang tersebut tidak bisa keluar dari penderitaanya maka sekonyong-konyong dia akan membuat sesuatu yang meskipin itu dianggap baik, namun pada dasarnya juga menyeret orang lain juga ikut menderita. Jika sudah demikian, yang bersangkutan mengidap penyakit yang lebih kompleks yaitu iri hati. Orang yang iri hati tidak pernah merasa hidup tenang, kurang istirahat, gelisah dan emosional. Yang ada dalam pikiran orang yang iri hati adalah pikiran untuk merusak, diiringi keyakinan diri bahwa orang lain itu jahat, jelek, buruk sekalipun itu menggunakan dalih agama.
Jalan Masuk adalah Jalan Keluarnya
Rasa takut, khawatir, kecewa dan penyesalan akan selalu mengiringi dalam setiap kehidupan manusia, namun jangan kiranya rasa itu menjadi penghalang bagi kita untuk dapat menikmati hidup, tetaplah fokus pada tujuan hidup. Tujuan hidupmu hanya diri kita sendiri yang menentukan, tentunya dengan yang memberi kehidupan. Jangan biarkan orang lain menentukan tujuan hidup kita dengan semaunya sendiri, apalagi hanya sekedar mengikuti ajaran agama. Mulailah untuk berpikir kritis, yaitu dengan mempertanyakan ulang setiap hal terutama jika sudah ada penekanan “percayalah”. Belajar untuk mengenal diri sendiri lebih intim, seperti halnya kita sekaligus menjadi pangamat atas semua yang kita lakukan. Ketika kita menjadi pengamat, beban hidup dan penyakit pikiran tersebut tidak akan mampu menjangkau, namun si pengamat tahu kalau kita sedang ada dalam beban hidup. Meski demikian kita tetap bisa berfikir jernih untuk tetap melanjutkan hidup sesuai tujuan, tanpa terpenjara rasa kecewa dan penyesalan atau terhalang oleh rasa takut dan kekhawatiran.
Menjadi kritis bukan berarti kita tidak boleh percaya sama sekali, namun mampu menempatkan kepercayaan tersebut sebagaimana mestinya dan tidak melampaui batas. Batas-batas tersebut adalah sikap peduli dan kesadaran untuk berbagi, bekerjasama dan saling menolong hidup berdampingan, kesejahteraan bersama melampaui batas identitas primordial (suku, agama, ras, jenis kelamin, negara).
Siapa yang tidak mau hidup sehat? Namun banyak orang memilih untuk tetap tinggal dalam beban hidupnya. Karena dengan demikian akan memancing simpati orang lain, dan merasa perlu dikasihani. Selain itu dengan memelihara penyakit di pikirannya menjadi punya cukup alasan untuk berbuat sesuka hati kepada orang lain, lebih memabukkan dari menghisap sebatang rokok.
Saya tidak menikmati rokok. Pengobatan paling canggih sekaligus paling murah adalah dengan cara menjaga untuk tetap terbiasa hidup sehat, terutama sehat pikiran.
Posted on April 6, 2011, in Artikel and tagged Agama, Beban Hidup, Hidup Sehat, House of Raminten, Kecewa, Khawatir, Penyakit Pikiran, Penyesalan, Takut, Tujuan hidup, Yogyakarta. Bookmark the permalink. 14 Comments.





















wah,ternyata skrg punya blog ya??
Nice article…:) thank you for sharing it..
sukses yaaa…
Hai Ika….terimakasih sudah mo mampir blogku. Ok sukses juga buat kamu yah…
yup, mari menyehatkan pikiran hehehe…….
Yoi benar sekali…..mari
saya menyesal tidak ikut dan kecewa karena tidak diajak. ;p
Jangan takut, dan tidak perlu khawatir…masih ada kesempatan yang lain
good..
Jatinom memang parah dalane,
sekarang kalau ke Jogja, aku lewat Boyolali-Tulung-Klaten, lumayan halus. tapi agak sempit.
Lewat jalan itu ya demi “hidup sehat”, lebih nyaman di jalan, jalannya relatif sepi (karena tidak banyak truk), juga sehat pikirannya, karena berusaha keras mengingat belok mana / milih jalan yang mana ketika menjumpai pertigaan/perempatan.
wuedan makin manteb ae tulisane…hehe.. Sip..
Ini semua berkat saya sinau sama Mas Andi, ketika sambil nongkrong di Kafe Rindang, sedikit saya nyuri ilmune sampeyan. Jadi maaf Mas andi, saya hanya bisa mengembalikan ilmu sampeyan dalam tulisan
Nice article….sangat inspiratif. Good luck and salam kenal yach sob…by info mesin roti
Terimakasih sudah berkenan mengunjungi dan memberi tanggapn di blog ini. Salam kenal juga
life is about balancing…
akan sangat baik jika kita menghilangkan asap rokok dan juga membersikan hati serta pikiran kita dari “asap2″ kepahitan, penyesalan, kekecewaan, takut & kawatir.
jadiii.. bukan hanya pola makan jasmani yang harus dijaga, namun pola makan rohani pun perlu dijaga…
Not only about balancing…… tapi merupakan harmonisasi (meminjam istilahnya anak FSP). Untuk bahagia tidak ada satu halpun dimuka bumi yang ditolak mati-matian atau dikejar mati-matian.
Ketika kita menolak mati-matian, meski yang ditolak tidak berhasil tertolak kita sudah merasakan seperti mati.
Pingback: Kronik Tuhan (Ngawurontologi) « S L A M E T H A R Y O N O : Share for A Better Life